A Letter For Your 24

Sayang, rasanya setelah makan malam bersamamu dan teman – temanmu tadi, aku akan langsung rebah dan lelap. Nyatanya sampai dini hari menjelang, mataku tak terpejam juga. Benar kata seorang ustadz, tidur nyenyak itu adalah nikmat dari Allah. Karena Allah lah yang mempunyai kuasa untuk mematikan (membuat tidur) dan menghidupkan (membangunkan). Seseorang bisa saja membeli kasur paling mahal, menata kamar tidurnya sedemikian nyaman, namun ia tak akan bisa membeli rasa nyenyak.

Kata mama, nikmatilah keadaanmu, syukuri apa yang ada pada dirimu. Maka aku bergegas terbangun, lalu membuat secangkir teh hangat, secangkir kehangatan rumah yang bisa kugenggam saat ini.  sambil membaca buku berjudul “Rumah Tangga” dari  Fahd Pahdepie. Kau tau kan? Aku selalu bersemangat menceritakan cerita – cerita yang ia tulis. Tentang cinta dan rumah tangga.

Sayang, sebentar lagi usiamu genap 24 tahun, beberapa teman smp kita sudah menikah, bahkan tak sedikit yang sudah menimang anak. Dan kita menikmati usia ini dengan mengejar mimpi – mimpi kita. Setiap orang punya pilihan bukan?

Di hari ulang tahunmu nanti, sepertinya aku akan berada jauh darimu, di ujung pulau sebrang. Sedih rasanya, tapi tak apa katamu. Yang terpenting adalah doa. Kau tahu? Sepanjang malam ini aku sibuk memikirkan tentang ucapan seperti apa yang akan aku berikan kepadamu, surprise semacam apa yang kira – kira membuatmu bahagia dan… banyak sekali tentang hal itu.

Semua berkecamuk dalam pikiranku, berdesak – desakkan seakan berteriak “pilih akuuuu untuk dedy”

Lalu, aku mulai dengan menulis surat ini untukmu.

Mas Fahd, ijinkan saya mengutip surat balasan dari mbak Rizqa karena saya rasa, surat itu sangat mewakili bahasa hati saya.

“Dedy,

Aku membuka semua pintu dan jendela rahasia dalam diriku agar kamu bisa memasuki dan mengetahui semua tentang kehidupanku. Kekuatan dan kelemah – kelemahanku, keberanian dan ketakut – takutanku, kebahagiaan dan kesedih – sedihanku. Maka, dengan semua pengetahuanmu tentang diriku, kamulah satu – satunya orang yang tahu bagaimana caranya untuk benar – benar membahagiakanku – atau benar – benar menghancurkanku.

Mencintaimu adalah membuatmu merasa bersalah terhadapku, tetapi akhirnya aku akan mengatakan, “Tidak apa – apa, aku yang salah, kok.” Mencintaimu adalah bertingkah apa saja yang bisa membuatmu sering mengkhawatirkanku, tetapi saat kau mendekatiku, membelai rambutku, lalu bertanya “kamu nggak kenapa – kenapa?” maka aku akan menggelengkan kepala sambil menjawab “nggak kenapa – kenapa, Aku baik – baik saja.” Lalu menyandarkan kepalaku di bahumu.

Jika ada yang salah dengan hubungan kita, seperti biasanya masing – masing akan bereaksi dengan cara bertahannya sendiri – sendiri. Aku egois. Kamu lebih egois. Aku akan marah kepadamu, lalu kamu lebih marah lagi. Namun, di akhir cerita, kita akan saling menyapa dengan malu – malu. Meminta maaf atas kebodohan masing – masing. Lalu belajar lagi untuk saling mencintai dan lebih mengerti. Itulah cinta kita: sederhana, apa adanya, tetapi tak ada yang bisa mengalahkannya.

Dedy, barangkali sebab kamulah satu – satunya orang yang paling membuatku takut kehilangan setelah mama, aku mencintaimu sebesar kesedihanku jika suatu hari kamu meninggalkanku – melukai perasaanku. Demikianlah, aku menerimamu sebab akupun tak punya pilihan lainnya. Sejak kamu mencuri hatiku, sekaligus mengunci langkahku untuk tak bisa pergi ke jebakan cinta siapa – siapa lagi.[Rumah Tangga, Fahd Pahdepie]

Jakarta, 29 Juni 2015 01.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s