Tentang Nafsu Makan yang Tenggelam

Beberapa hari ini, nafsu makan sedang turun. Rasa – rasanya bosan makan makanan yang seperti biasanya. Pengen masak tapi ga boleh masak di kos. Lapar, tapi ga ada nafsu makan itu menyiksa banget. Agar tak dzalim pada diri sendiri, akhirnya dipaksa lah buat masukin makanan ke mulut. Daripada nanti malah sakit, malah jadi lebih ribet. Itu pikir saya waktu itu, hingga pagi ini, saat saya sarapan di warteg dekat kos, ada seorang bapak – bapak yang sudah tua, saya tebak umurnya sekitar 60 tahun an, saya makan mie goreng telor, sedangkan beliau makan lontong dan gorengan. Yaa.. di Jakarta memang lazim makan lontong dan gorengan. Beda dengan di klaten dan sekitarnya. Tapi bukan ini inti dari tulisan saya saat ini. sebelum makan, bapak itu membaca basmallah dan mengakhiri makannya dengan hamdalah sambil berujar pada dirinya sendiri. “Alhamdulilah masih bisa makan hari ini, di luar sana banyak yang ga bisa makan. Bukan karena ga mampu tapi karena memang tidak bisa”

Astagfirullah, seketika itu juga saya serasa diingatkan. Iya yah, banyak orang kaya yang sakit ini itu bahkan, ada yang makan saja hanya bisa dari selang, bukan karena mereka tak punya uang untuk membeli makanan yang mereka inginkan, tapi karena mereka tak bisa makan apa yang mereka inginkan. Tak pantas rasanya, mengeluh dan hanya berfokus pada satu kekurangan, yang membuat saya lupa menengok kearah lain, tumpukan nikmat yang telah Allah berikan pada saya. Saya yakin semua peristiwa ini bukanlah tanpa rancangan dari yang maha kuasa. Mulai dari rasa lapar yang timbul, yang membuat saya melangkahkan kaki saya menuju warteg itu, yang membuat saya bertemu dengan bapak itu dan juga nasihat yang diberikan oleh beliau secara tidak langsung. Saya jarang sarapan dengan mie goreng telor, biasanya saya sarapan buah, jadi saya tak perlu keluar kamar, kalaupun ingin sarapan selain buah, saya jarang sekali ke warung itu, karena biasanya saat pagi hari hanya ada lontong, gorengan dan mie. Makanan yang sangat jarang sekali saya makan di pagi hari. Dan biasanyapun kalau beli di warung itu, saya minta dibungkus saja. Tapi pagi itu, saya sedang enggan makan buah, sedang ingin makan mie goreng, dan sedang ingin praktis dengan cara makan di tempat saja.

One thought on “Tentang Nafsu Makan yang Tenggelam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s