Bak Kut Teh

Bak Kut Teh, yang artinya pork rib soup atau sup iga daging babi.

Film pendek ini berhasil membuat saya menangis,*atau memang lagi pengen nangis kali ya, jadi disuguhi drama dikit aja udah langsung mewek*

Kadang kalau lagi sesak di dada, mendem perasaan, pengen cerita tapi ga tau ke siapa. Imbasnya adalah jadi orang linglung, ga punya target, kerjaan ga jelas, dan ujungnya butuh diledakkan dengan menangis. Meledak aja, abis itu lega. Untung malam sabtu ini, kos an lagi kosong.

Bak Kut Teh bercerita tentang seorang suami yang melakukan KDRT pada istrinya, Girls, KDRT ga Cuma fisik aja loh. Tapi bisa juga dengan kata – kata, yang bahkan bekasnya lebih sukar hilang dibandingkan luka fisik.

Ada sepasang suami istri, sang istri mengajak sang suami untuk mengunjungi rumah orang tua sang istri. Tapi sang suami sebenarnya malas, karena menurut dia mertua perempuannya cerewet. Bahkan dengan kasar sang suami mengatakan, kalau sampai si ibu memarahinya lagi, maka ia akan memotong lidah si ibu. Astagfirulloh, sedihnya kalau punya suami yang seperti ini. ia terlihat tak mencintai istrinya, tak menghargai mertuanya. Naudzubillah min dzalik.

Si anak menantu ini memang tidak punya sopan santun sama sekali. Begitu datang dengan tatapan tidak senang, dia langsung duduk dan membaca Koran, sementara sang istri dan ibunya memasak di dapur dan sang ayah mertua yang kakinya telah buntung sedang menonton tv. Saat sang anak menyisingkan lengan bajunya pada saat mencuci sayuran sang ibu melihat lebam di lengan anak perempuannya satu – satunya itu. Hati ibu mana yang tidak menangis melihat itu. Anak yang dulu dirawatnya dengan baik bahkan tak diiijinkn seekor nyamuk pun menggigit kulitnya, lalu ketika dewasa, datang seorang laki – laki yang ingin meminangnya. Laki – laki yang dipercaya akan membahagiakan anaknya, mencintainya dengan sepenuh hati, tapi ternyata malah membuatnya terluka.

Sang ibu naik pitam dan hendak marah dengan sang menantu, tapi sang anak mencegah, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya. Setelah amarah sang ibu reda, mereka melanjutkan memasak, sang ibu hendak memberikan obat pada sang ayah, dan meminta sang anak merebus daging babi setelah air mendidih.

Setelah sang ibu keluar dari dapur, datanglah suami perempuan itu. Dengan kasar ia melempar sebuah balok kecil ke pipi si perempuan itu sambil menyuruhnya mengambil kertas parkir. Sang istri yang telah lama menyimpan rasa marahnya dan rasa kecewanya pada sikap sang suami yang tak menghargai dan bahkan cenderung menyakiti hanya bisa menangis, dengan sengaja ia merebus jari – jari nya. Kalau saya lihat ia melakukan tindakan ini untuk menahan emosinya, seperti ketika kita marah, lalu menggenggam tangan erat2, mungkin karena saking merasa kesal dan tersakiti, ia merebus jari – jarinya. Menahan rasa sesak di dadanya, dan sakit di hatinya. Saya bisa merasakan kemarahanan kesedihan perempuan ini, sampai saya nangis sesenggukan.

Tak lama kemudian si ibu datang dan kaget mendapati anaknya merebus jari – jarinya. Lalu si ibu mengangkat tangan anaknya, mereka duduk dan si ibu bilang “perlukah kita ke polisi?”

“Polisi tidak bisa apa – apa bu, lebih baik aku ambil karcis parkir saja” jawab si perempuan itu.

Keluar dari rumah sang ibu, si perempuan ini menngis sambil memukul – mukul tembok lalu terduduk lemah, si ibu yang menyaksikan pemandangan seperti itu tak sanggup lagi berkata apa – apa. Saya membayangkan apabila jadi ibu itu, bagaimana sedihnya saya menyaksikan anak saya seperti itu.

Setelah si anak kembali ke rumah, ia melihat si ibu memegang pil tidur yang begitu banyak, lalu menyeduhnya dengan teh dan memberikan minuman tersebut pada si menantu. Apa yang terjadi selanjutnya? Silahkan tonton videonya.

Yang ingin saya soroti disini adalah sikap sang menantu.

Betapa celakanya ia. Bukankah ketika ia menikah, ia berjanji di hadapan orang tua dan para tamu yang hadir, bahkan kepada Tuhan, untuk menjaga sang istri, jika dalam Islam, kutipan di bawah ini cukup mewakili bagaimana selayaknya suami memperlakukan istrinya, menyayangi keluarga istrinya sebagaimana ia menyayangi istrinya.

 saya pilih kamu.

Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu.

Percayakan hidup kamu pada saya dan saya akan penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir batin.

pindahkan baktimu tidak lagi kepada orang tuamu, baktimu sekarang pada saya.

Tiga perkara yang pria minta dari perempuan saat menikah, banyak lelaki yang tidak tau bahwa ia meminta 3 hal tersebut, banyak juga laki – laki yang bahkan kemudian hari mencederai 3 hal ini.

dikutip dari buku “Sabtu Bersama Bapak” by Adhitya Mulya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s