Romantisme Parangtritis

Bagiku jogja itu tak hanya kota budaya, ia menyerupai dewata di tanah jawa dengan bentangan bibir pantai yang memanjang mengawali samudra hindia. Lihatlah, bibir pantai yang mengelok dengan begitu sempurna terlihat dari bukit paralayang ini.

Gambar

*parangtritis terlihat dari bukit paralayang*

IMG_0703

*diatas landasan paralayang*

Inilah cara baruku menikmati deburan ombak dari atas tebing. Rasanya ingin berlama – lama disini kalau saja aku sudah menunaikan Ashar. Tak perlu membayar mahal untuk semua ini, cukup 3000 rupiah saja untuk parkir. Biaya masuk? Kami sengaja mencari sisi lain dari parangtritis, berbelok sebelum gerbang retribusi masuk pantai parangtritis. Membelah jalan diantara rimbunnya bakau hingga tanpa sengaja kami berhenti sejenak di bangunan berbentuk segitiga ini. Museum geospasial pantai parangtritis. Pintunya tertutup rapat., Entah karena memang sudah tutup atau memang tidak buka pada hari itu.

Gambar

*musium geospasial*

IMG_0672

*bersama ayu di musium geospasial*

Melewati pantai parangtritis dan terus memacu menuju ujung timur, melewati jalan terjal yang memerlukan tenaga ekstra. Ini adalah sedikit gambaran mengenai puncak yang harus kita daki. Sayang aku lupa mengabadikan tanjakan yang paling ekstrem. Banyak dari mereka yang harus turun dari kendaraan karena tak kuat menanjak. Jadi siapkan tunggangan anda jika ingin menikmati indahnya parangtritis dari atas.

Gambar

*tanjakan menuju bukit paralayang*

Gambar

*jalan mendaki menuju bukit paralayang*

Sesampainya di salah satu rumah penduduk, kami melanjutkan pendakian dengan berjalan kaki, saya rasa ini lebih ringan daripada mendaki bukit sikendil di puncak suroloyo. Beruntung sekali kami, diatas sana ada beberapa penerbang paralayang yang sedang berlatih. Dengar kabar bahwa tanggal 28 Februari 2014 akan diadakan lomba paralayang di bukit ini. Ah.. aku jadi berandai andai untuk menikmati pantai dan angin secara bersamaan, terbang bersama burung – burung.

Gambar

Gambar

IMG_0689

*beberapa penerbang paralayang*

Seiring Matahari yang mulai meredup kami memutuskan untuk menikmati senja dengan berjalan diatas pasir yang begitu lembut sesekali kaki kami tersapu ombak kecil serupa buih. Kami sengaja duduk di bibir pantai yang tersapu air laut, alangkah menyesal karena tak membawa baju ganti. Terpaksa aku selalu berdiri kembali saat ombak mulai mengejar. Iri rasanya dengan ayu yang membiarkan tubuhnya dibelai lembut ombak yang mulai surut. Bagiku senja tak pernah kehilangan pesonanya, semburat jingga yang mengagumkan memenuhi ufuk barat selalu menciptakan perasaan tersendiri. Dan ketika surya tak lagi menampakan cahayanya kami melanjutkan perjalanan menuju jalan bantul untuk sekedar mengisi perut yang lapar, pilihan kami jatuh di Mie Lethek yang tempo hari pernah kuceritakan selepas dari candi ijo. Terimakasih… terimakasih untuk hari yang begitu menyegarkan, untuk suara ombak yang menenangkan jiwa, untuk pasir lembut dan air laut yang menciptakan perasaan yang tak tergambarkan, untuk lukisan langit yang membuatku rindu pada sahabat kecilku, Ratna Eka rahmawati dan fajar, mari kita menatap langit bersama seperti saat aku dan kamu belum mengerti susahnya menjadi orang dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s