habits itu mudah ga mudah

Habits bisa terbentuk entah itu terpaksa ataupun dengan senang hati, asalkan ada ayah dan ibunya yaitu practise dan repetition, habits ga melulu kebiasaan – kebiasaan positif, tapi bisa juga habits negative, contohnya jam karet. Jadi hati hati, habits bisa menjadi pelayan setia anda, bisa jadi yang menjerumuskan anda ke jurang kegagalan juga.

Saya tertarik dengan 3 bab terakhir dari buku habits yang baru saja saya rampungkan jam 3 pagi ini. Yang pertama adalah “excuses are EXTREMELY dangerous. Kata EXTREMELY sengaja saya uppercase karena habits membuat alasan memang sangat berbahaya. Kenapa? Karena orang yang memiliki banyak alasan selalu merasa bahwa kesalahan bukan ada pada dirinya, dan sama sekali menutup kemungkinan akan itu. Sebaliknya, baginya kesalahan selalu ada pada orang lain. Duh, sedihnya karena saya masih masuk ke dalam orang – orang yang menghalalkan excuses. Ini nih yang namanya habit buruk dan harus segera dibasmi dengan domestos nomos. Hahaa..apasih.

 

Yang kedua adalah “Devil’s temptation” dalam pejalanan membentuk habits tentu jalan itu tidak dihiasi oleh kemudahan dan kelapangan. Sebagaimana lazimnya jalan yang menuju baik, jalan membentuk habits juga tiada mudah. Yang harus diwaspadai adalah godaan syaitan dengan kata – kata dahsyatnya yang dengan segera meruntuhkan pertahanan benteng hati kita untuk lepas dari habits buruk maupun perubahan menuju habits baik :

1. #mendingan dan #daripada

“#mendingan saya, sudah baca buku walau Cuma kata pengantar dan kesimpulann, #daripada ga baca sama sekali”

“#mendingan saya Cuma ga salat subuh, #daripada ga salat seharian”

Nah, begitulah teknik syaitan yang pertama, agar standar yang kita terapkan diri kita menurun dan akhirnya batal membentuk habits.

2. #yang-lain-juga-begitu

“ah gapapa ga belajar, #yang-lain-juga-begitu kok! Si dia aja yang juara 1 sedang nonton film”

“memangnya kamu aja yang maksiat? #yang-lain-juga-begitu kok, jangan sok suci deh”

Kalau yang frase ini bisa membuat kita merasa ‘lebih tak bersalah’ ketika melakukan sesuatu yang dibawah standar kebaikan, hanya karena yang lain juga berbuat yang sama.

3. #sekali-iniii-aja

“aku udah cukup serius menjalani habits baruku membaca Al Qur’an selepas magrib, lagipula PR banyak, perut lapar istirahatku kurang. #sekali-iniii-aja ga baca Al Quran kan ga ada masalah.”

Biasanya kata ini akan muncul saat habits kita sudah mulai solid, dan akhirnya kita merasa lengah akan godaan-godaan syaitan yang ingin membatalkan kita membentuk habits baik.

4. #ini-yang-terakhir-dehh

“ini-yang-terakhir-dehh nyontek waktu ujian, besok ga lagi lagi soalnya tadi malam ga sempet belajar karena capek.”

Bila kita ingin menjauhkan diri dari maksiat, maka camkan bahwa tidak ada #ini-yang-terakhir-dehh, karena jika kita berbuat maksiat dengan frase ini, yakinlah itu bukan maksiat yang terakhir kita lakukan, akan ada lanjutan maksiat yang lain.

Hiks…iyahhhh

 

Dan yang terakhir sebagai kata pamungkas adalah pepatah Melayu

“ nak atau tak nak, kalau nak 1000 daye kalau tak nak 1000 daleh ”

Yang artinya, mau tak mau, kalau mau 1000 usaha, kalau tak mau 1000 alasan.

 

Kalau lagi pedekate aja 1000 usaha untuk meluluhkan sang pujaan hati. Tapi kalau sudah bosan 1000 alasan untuk pergi. #upps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s