RADON KARSINOGENIK DI SEKITAR KITA

PENDAHULUAN

      Di antara berbagai sumber radiasi yang ada di sekitar kita, sumber radiasi yang berasal dari alam memberikan kontribusi yang cukup berarti. Sumber-sumber radiasi alam khususnya radon dan thoron mendapatkan perhatian yang serius sehubungan dengan efek merugikan yang dapat ditimbulkan seperti kanker paru-paru [1,2].

       Radon merupakan gas radioaktif, secara kimia merupakan gas mulia dengan nomor atom 86 dan diberi lambang Rn. Radon tidak berwarna dan tidak berbau dan juga tidak dapat dilihat sama seperti gas helium dan neon, sehingga keberadaannya di udara tidak dapat dikendalikan oleh sistem pancaindra manusia. Gas-gas mulia ini tidak dapat atau relatif sangat sulit untuk berinteraksi dengan unsur-unsur kimia lainnya meskipun terperangkap  pada satu rongga dalam satu bahan yang sama. Radon yang lebih dikenal sebagai 222Rn merupakan hasil luruhan langsung dari radium, 226Ra, dan radium ini berasal dari anak luruh isotop uranium, 238U, yang telah meluruh beberapa kali. Isotop uranium sudah ada semenjak dunia ini terbentuk.

Radon yang bersifat radioaktif, pada temperatur kamar selalu berbentuk gas dengan kerapatan 10 gr/liter dan terlarut dalam udara, juga meluruh menghasilkan turunan/anak luruh yang radioaktif. Secara berurutan turunan tersebut adalah polonium, 218Po (radium A) ; timbal, 214Pb (radium B) ; bismut, 214Bi (radium C) ; polonium, 214Po (radium C’) ; timbal, 210Pb (radium D) [3,4]. Jika radon dan turunannya terhisap pada saat bernafas, maka anak luruhan radon yang berbentuk partikel sangat kecil tersebut akan mengendap di dalam paru-paru dan merupakan awal indikasi yang dapat menimbulkan kanker paru-paru [1,5]. Semakin tinggi konsentrasi radon yang terhisap, makin besar pula kemungkinan seseorang menderita kanker paru-paru. Sejak abad ke-19 efek merugikan dari radiasi yang dipancarkan oleh gas radon ini telah diketahui. Pada saat itu para pekerja tambang di Eropa Tengah, banyak yang menderita gangguan kesehatan. Menurut perkiraan, para pekerja tersebut telah menghisap gas radon dalam jumlah berlebihan. Gangguan itu kemudian dikenal dengan sebutan Shneebergkrankheit. Pegamatan berikutnya pada pertengahan abad ke-20 yang dilakukan terhadap pekerja tambang batu bara menunjukkan bahwa radon beserta anak luruhnya menyebabkan terjadinya kanker paru-paru. Tetapi hingga kini belum ada data epidemiologi yang lengkap tentang  efek gas radioaktif ini.

Dalam beberapa dekade terakhir ini radon dan turunannya yang terdapat di udara bebas telah menjadi topik penelitian yang utama. Hal ini disebabkan oleh karena di samping efek merugikan  yang berhubungan dengan kesehatan manusia, juga karena hampir dari separuh paparan radiasi alami (natural radiation exposure), yaitu paparan radiasi yang berasal dari alam, disebabkan oleh radon dan turunannya. Beberapa negara telah memulai melakasanakan pengukuran radiasi radon di lingkungan, tempat tinggal dan perkantoran [3]. Batas maksimum konsentrasi radon dalam ruangan yang direkomendasikan oleh Komisi Internasional untuk Proteksi Radiasi (ICRP, International Commission on Radiological Protection) adalah 200 Bq/m3 [6].

 

SUMBER RADON

       Gas radon merupakan gas radioaktif yang terdapat dimana-mana karena mudah terlarut dalam udara, memberikan kontribusi terbesar dari paparan radiasi yang diterima manusia dibandingkan sumber-sumber radiasi lain yang terdapat di alam. Berdasarkan IAEA, 48,3% dari total rata-rata dosis radiasi setiap tahun berasal dari radon, sedangkan dari medis sinar komik, sinar gama, dan internal adalah 11,2% ; 14,5% ; 17,1% ; dan 8,6%. Dari sumber-sumber lain seperti pelepasan dari instalasi nuklir (Nuclear discharges), debu radio aktif hasil uji coba senjata nuklir (fallout), akibat pekerjaan, lain-lain hanya sekitar 0,6%. [7]

       Keberadaan gas radon di lingkungan sangat dipengaruhi oleh kondisi, situasi dan jenis batuan yang terdapat pada daerah tersebut. Di dalam ruangan tempat tinggal/kantor, disamping dipengaruhi oleh kondisi dan bahan bangunan, juga dipengaruhi oleh kondisi sirkulasi udara dalam ruangan dengan udara luar atau lingkungan. Pada bagian berikut akan dibahas sumber-sumber radon di lingkungan dan di dalam rumah.

 

Sumber radon di lingkungan

       Ada dua isotop gas radon yang terkenal, yaitu 222Rn (gas radon) dan 220Rn (gas thoron). Radon merupakan anak luruh dari uranium, sedang thoron  merupakan anak luruh dari torium, 232Th. Karena uranium dan torium terdapat pada setiap Lapan kerak bumi, maka gas radon tersebut terdapat juga di lapisan atmosfer bumi. Pada daerah normal dengan ketinggian 150m di atas permukaan laut, konsentrasinya berkisar antara 2-10 Bq/m3 (54-270 pCi/m3) udara. Konsentrasi tersebut akan menjadi berkurang kira-kira 1,5 kali lebih rendah setiap kenaikan 700m ke atas. Konsentrasinya mencapai maksimum di pagi hari dan minimum di siang hari dan sore hari [3,4].

       Batuan yang berumur sangat tua (>600 juta tahun), umumnya mengandung uranium dengan konsentrasi yang relatif tinggi. Oleh sebab itu konsentrasi gas radon pada daerah itu juga tinggi. Konsentrasi gas radon yang sangat tinggi ditemukan pula pada daerah permukaan sumber air panas. Konsentrasinya ada yang mencapai 1.000 – 10.000 kali konsentrasi gas raden di udara pada umumnya [8].

       Berdasarkan NCRP (National Council on Radiation Protection and Measurement) [9], lebih dari 80% gas radon yang dilepas di atmosfer berasal dari lapisan tanah bagian atas. Besarnya konsentrasi radon sangat bergantung ada kondisi dan jenis batuan yang terdapat pada lapisan tanah di daerah tersebut. Untuk jenis batuan granit yang kaya dengan uranium di peroleh konsentrasi rata-rata 59,26 Bq/kg (1,6 pCi/g), sedangkan basalt yang relatif sedikit  kandungan uraniumnya memiliki konsentrasi rata-rata 11,11 Bq/kg (0,3 pCi/g) [10]. Selanjutnya konsentrasi radon rata-rata secara keseluruhan untuk batuan pada lapisan kerak bumi kira-kira 37,04 Bq/kg (1 pCi/g) dan pada tanah kira-kira 25,93 Bq/kg (0,7 pCi/g).

       Air tanah juga memberi kontribusi yang cukup berarti terhadap konsentrasi radon di lingkungan. Air tanah yang menembus lapisan kerak melalui rongga-rongga batuan dan  tanah yang mengandung radium dapat melarutkan gas radon. Jika air tanah ini menuju ke permukaan, maka radon yang terdapat pada air tersebut akan menguap ke atmosfer. Konsentrasi radon pada air tanah sangat bergantung pada karakteristik batuan yang dilewati oleh air tanah tersebut.  Hasil penelitian tentang konsentrasi gas radon dalam air oleh Hess dik terhadap 200-an contoh (samples) diperoleh konsentrasi radon dengan selang antara 7,41 Bq/kg (0,2-50 pCi/g). Dari 10 jenis batuan granit yang berbeda diperoleh konsentrasi rata-rata air-radon dengan interval antara 55,6-1444,4 Bq/kg (1,5-36 pCi/g) [11].

       Konsentrasi radon di atmosfer yang berasal dari air laut sangat kecil 3,33×10-2 Bq/kg (0,0009 pCi/g) [12]. Hal ini disebabkan karena kandungan uranium dan radium dalam air laut sangat rendah sekali dibandingkan dengan yang terdapat pada batuan atau tanah di daratan. Kontribusi radon dari laut/lautan ke atmosfer meskipun relatif kecil yaitu kira-kira 1% dari total emisi radon di atmosfer masih perlu mendapatkan perhatian.

       Lepasan gas radon dari sumber-sumber radon ke atmosfer yang berasal dari tanah, air sampai pembakaran batu bara ditampilkan pada Tabel 1. Pada tabel ini terlihat lepasan gas radon terbesar berasal dari tanah dan terendah berasal dari pembakaran sisa tambang.  (37 x 103 Bq/tahun)

       Tabel 1. Sumber-sumber radon yang terlepas ke udara bebas/atmosfer [8]

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber radon di dalam rumah

       Kondisi dan bentuk bangunan rumah/tempat tinggal atau kantor sangat berpengaruh besar terhadap keberadaan dan konsentrasi radon. Rumah-rumah yang dilengkapi dengan AC (air conditioner) dan ventilasi udara sangat kurang, yang malai banyak dijumpai pada saat ini dapat dikatakan sebagai rumah dengan  sistem udara tertutup. Pertukaran udara dalam ruangan tertutup dengan udara luar/lingkungan relatif kurang sekali. Sirkulasi udara yang tertutup ini, ternyata memberikan konsentrasi radon yang relatif tinggi dibandingkan rumah model yang sama dengan sistem sirkulasi udara terbuka.

       Penggunaan bahan-bahan sisa hasil pengolahan bahan tambang sebagai bahan bangunan untuk perumahan maupun gedung dapat memperbesar konsentrasi gas radon dalam ruangan. Di Eropa beredar beberapa jenis bahan bangunan yang dibuat dari sisa hasil pengolahan bahan tambang berkonsentrasi radioaktif alam tinggi. Beberapa contoh di antaranya adalah phospogypsum (sisa hasil pengolahan fosfat yang mengandung radium), batubara merah dari limbah pabrik penghasil alumunium, Bart furnace slag (dari pabrik besi) dan sebagainya.

       Konsentrasi gas radon dalam ruangan selain disebabkan oleh air tanah, batuan dan tanah di sekitar lingkungan rumah juga sangat dipengaruhi oleh jenis bahan (material) dasar bangunan ramah tersebut. Dari hasil studi konsentrasi radium dalam bahan bangunan yang telah dilakukan di negara-negara maju seperti Inggris, USA, Jerman Barat dll, ternyata sangat banyak material bangunan seperti birck (batu bata), wallboard atau beton yang dapat memancarkan gas radon ke udara bebas.

Tabel 2. Material sebagai bahan bangunan di beberapa negara maju (dalam Bq/kg) [13].

Tabel 2 ditampilkan beberapa material bangunan yang banyak ditemukan di pasaran di berbagai negara, sedang pada tabel 3 menunjukkan hasil penelitian kandungan radionuklida alam yang dilakukan untuk beberapa bahan bangunan yang terdapat di Indonesia. Disamping itu, konsentrasi radon dalam satu ruangan tempat tinggal/perkantoran dipengaruhi  oleh ketebalan dinding atau material. Semakin tebal dinding ruangan, maka laju lepasan gas radon [ke atmosfer akan semakin tinggi. Pada tabel 4, di tampilkan laju  relatif lepasan radon ke udara terhadap konsentrasi radon.

Tabel 3. Kandungan radionuklida alam yang terdapat pada beberapa bahan bangunan di Indonesia (dalam Bq/kg) [14]

 

Tabel 4. Laju relatif lepasan radon dari beberapa jenis bahan bangunan [13]

       Konsentrasi radon dalam ruangan relatif lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi radon di lingkungan [2,10]. Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh Hattori dkk setiap jam selama 24 jam untuk daerah Tokyo, konsentrasi radon di lingkungan kira-kira seperlima dari konsentrasi radon dalam ruangan perkantoran (Gambar 1) [3]. Dalam hal ini areal untuk pemantauan konsentrasi radon lingkungan sekitar 6500 m2 dan berjarak 400 m dari gedung perkantoran . pada gambar ini juga dapat dilihat perbandingan antara konsentrasi radon di dalam  2 ruangan (A dan B) pada satu ruangan A dan ruangan B terdapat perbedaan yang cukup berarti, yaitu volume ruangan A dan B secara berurutan adalah kira-kira 430 m3 dan 250 m3 dengan jumlah karyawan yang bekerja sehari-hari dari jam 08.00-20.00 sebanyak 14 orang untuk ruangan A dan 7 orang untuk ruangan B. Termasuk Furniture, luas permukaan secara keseluruhan ruangan A dan B masing-masing 530 m2 dan 350 m2. Disamping perbedaan-perbedaan tersebut di atas pada ruangan A dan B masing-masing di pasang 5 unit AC dengan 870 m3 jam-1 per unit AC dan 3 unit AC dengan 650 m3 jam-1 per unit AC.

Gambar 1. Perbandingan  konsentrasi radon dalam gedung perkantoran dan lingkungan dengan areal kira-kira 6500 m2 pada jarak 400 m dari gedung (dengan areal kira – kira 6500 m2 pada jarak 400 m dari gedung [3].

 

PEMANTAUAN RADON

       Pemantauan gas radon di lingkungan, ramah dan perkantoran di negara-negara maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa Barat, telah mendapat perhatian serius. Pada gambar 2, 3, dan 4 diperlihatkan fluktuasi konsentrasi rata-rata radon dalam ruangan selama setahun, sebulan dan sehari [4].

Gambar 2. Perubahan konsentrasi radon setiap bulan dalam waktu satu tahun [4].

       Konsentrasi rata-rata radon dan anak luruhnya di lingkungan, tempat tinggal dan perkantoran sangat berfluktuasi bergantung pada kondisi dan arah angin saat pemantauan dilakukan [1]. Konsentrasi radon mengalami peningkatan dan mencapai maksimum pada jam 7 pagi dan mengalami penurunan sampai jam 15 sore, setelah itu kembali terjadi peningkatan. Hasil pemantauan konsentrasi radon yang dilakukan oleh Hattori dkk pada tiga lokasi enggan kondisi yang tidak sama ditunjukkan pada Gambar 1 [3].

Metode pemantauan radon dan anak luruhnya

       Pemantauan konsentrasi radon seperti yang digambarkan di atas dapat dilakukan dengan metode langsung (instantaneous methods), metode kontinu (continuous counting methods) dan metode tidak langsung (integratif methods) [15]. Pada metode langsung dan kontinu diperlukan waktu pengukuran yang relatif singkat, sehingga hasilnya dapat segera diketahui, sedangkan pada metode tidak langsung, hasil pengukuran yang diperoleh merupakan konsentrasi radon secara kumulatif untuk waktu selama masa pengukuran.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Perubahan konsentrasi radon rata-rata dari hari ke hari selama 24 hari [4].

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Perubahan konsentrasi radon rata-rata di tempat tinggal [4].

  1. a.  Metode langsung

Pengambilan contoh udara (air sampling) dari atmosfer dilakukan dengan teknik Grab sampel, yang dimasukan ke dalam kontainer dan dibawa ke laboratorium untuk di analisis. Bentuk-bentuk kontainer yang biasa digunakan dapat berupa plastik, metal cans dan gelas dengan ukuran volume antara 5 liter dan 20 liter. Untuk pengukuran konsentrasi radon yang relatif rendah, dilakukan pengambilan contoh udara dalam jumlah yang besar untuk kemudian menjadikan konsentrasi contoh menjadi volume yang kecil sehingga memudahkan dalam pengukuran. Biasanya untuk konsentrasi radon yang rendah ini menggunakan alat sedot udara (air dust samper) yang dilengkapi kertas filter tertentu (misal HE-40T) [16]. Partikel-partikel radon dan turunannya yang menempel pada kertas filter tersebut diukur konsentrasinya secara langsung dari peluruhan partikel alfa dan beta dengan menggunakan detektor scintilasi.

       Selang waktu pengambilan contoh dan waktu yang digunakan untuk pengukuran relatif singkat (dalam orde menit, jam). Hal ini disebabkan karena waktu paruh anak luruh radon yang terpanjang hanya 26,8 menit. Jika pengukuran dilakukan setelah beberapa jam pencuplikan dilakukan, maka anak luruh radon dari contoh yang sebenarnya telah meluruh. Dengan menggunakan metode langsung ini, fluktuasi konsentrasi radon setiap selang waktu pengukuran tersebut dapat diketahui (Gambar 3 dan 4). Peralatan-peralatan yang digunakan dalam metode langsung ini adalah,

  • Alpha particle scintillation counting, dengan ZnS atau likuid scintillators
  • Internal ionization Chambers counter
  • Two filter methods
  • Alpha particle spectroscopy
  • Combined alpa particle Ana beta particle spectroscopy

 

 

  1. b.  Metode kontinu

Pemantauan konsentrasi radon dalam metode kontinu ini, dilakukan secara terus-menerus menggunakan alat Scintillation Chambers yang ditutup dengan filter udara. Dengan kondisi filter udara yang ditutupkan dan scintilasi dari partikel alfa yang dipancarkan oleh radon dan turunnya diukur secara terus menerus. Pengukuran ini biasanya dilakukan dengan interval perbedaan integrasi yang dipakai untuk analisis data adalah sekitar 180 menit dan hasilnya dapat dilihat dengan photomultiplier. Untuk aliran udara konstan, bacaan pada skala alat sebanding dengan konsentrasi radon. Metode ini biasanya digunakan pada konsentrasi radon yang relatif tinggi, misalkan dalam tambang bawah tanah atau air tanah.

 

  1. c.   Metode tidak langsung

Berbeda dengan dua metode sebelumnya, pada metode ini digunakan detektor yang sangat sensitif terhadap partikel alfa sehingga relatif mudah berinteraksi. Detektor yang dapat dipakai dalam metode ini adalah etched track detectors (biasanya menggunakan detektor CR-39), TLD (thermoluminerscence detectors) dan detektor absorpsi arang (charcoal adsorption detectors). Detektor-detektor ini sangat beda dalam penggunaannya dan pada dasarnya partikel alfa yang dipancarkan oleh radon dan turunannya menyebabkan terjadinya satu perubahan/kerusakan pada detektor yang digunakan. Dengan pemantauan konsentrasi radon dengan metode ini diperlukan waktu beberapa Minggu atau bulan dan hasil yang diperoleh merupakan hasil yang mewakili konsentrasi rata-rata radon untuk selama masa pengukuran. Makin rendah konsentrasi radon pada daerah yang akan diukur konsentrasinya diperlukan waktu yang relatif lebih lama.

Interaksi antara partikel alfa dengan detektor CR-39 dapat menimbulkan jejak-jejak nuklir laten. Setelah melalui proses etsa kimia, jejak tersebut dapat dilihat dan dihitung jumlahnya dengan bantuan mikroskop. Jumlah jejak yang terjadi pada detektor persatuan luas akan sebanding dengan konsentrasi radon untuk masa selama pengukuran [15]. Detektor ini hanya dipakai untuk satu kali masa pengukuran.

Pada TLD, interaksi antara partikel alfa, beta dan sinar gama (radiasi ionisasi) yang berasal dari peluruhan radon dan turunannya dapat menyebabkan terjadi perubahan/ perpindahan posisi atom atau molekul bahan. Keadaan dapat dikembalikan seperti semula jika TLD menerima panas dengan suhu tertentu. Dalam proses tersebut akan menimbulkan cahaya yang berpendar (luminisensi) yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi radon. Dalam hal ini, untuk koreksi paparan radiasi latar belakang dari sinar gama digunakan TLD lain yang hanya sensitif terhadap gama. TLD berukuran relatif kecil, tidak mahal dan dapat dipakai berulang sampai kira-kira 100 kali siklus pengukuran.

Berbeda dengan detektor CR-39 dan TLD, pada detektor absorpsi arang ini terjadi penyerapan radon dan dalam penggunaan untuk pengukuran konsentrasi radon tidak lebih dari kira-kira 1 minggu.

      Kegunaan dan Bahaya Radon

Radon kadang digunakan oleh beberapa rumah sakit untuk kegunaan terapeutik. Radon tersebut di peroleh dengan pemompaan dari sumber Radium dan disimpan daloam tabung kecil yang disebut ‘’benih’’ atau ‘’jarum’’. Radon sudah jarang di gunakan lagi namun, mengingat rumah sakit sekarang bisa mendapatkan benih dari ‘’supplier’’ yang menghasilkan benih dengan tingkat peluruhan yang dikehendaki. biasanya digunakan kobalt dan caesium yang tahan selama beberapa tahun, sehingga lebih praktis ditinjau dari segi logistik. Karena peluruhannya yang cukup cepat, radon juga digunakan dalam penyelidikan hidrologi yang mengkaji interaksi antara air bawah tanah, anak sungai dan sungai. Peningkatan radon dalam anak sungai atau sungai merupakan petunjuk penting bahwa terdapat sumber air bawah tanah.

Indonesia, sebagai negeri vulkanik terkaya di dunia serta daerah gempa, mempunyai potensi ancaman besar dari gas radon ini. Radon akan mudah keluar ke permukaan berkaitan dengan aktivitas vulkanik. Pada suhu yang tinggi, radon akan terlepas dari perangkap batuan dan keluar melalui saluran yang ada.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh BATAN (Sjarmufni dkk) yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2002 di daerah Gunung Rowo dan patahan Tempur, Muria – Jawa Tengah, menunjukkan hasil pengukuran gas radon yang cukup signifikan. Gas tersebut terlepas sebagai akibat kegiatan magmatik dan aktivasi patahan. Pengukuran menunjukkan bahwa aktivitas gas radon mencapai sekitar 10-50 pCi. Zona-zona patahan dan rekahan (sheared fault zone), juga perlu diwaspadai karena merupakan jalan yang baik bagi radon untuk lepas ke permukaan.

Radon bersifat sangat toksik, dikarenakan sifat radioaktivitasnya yaitu sebagai pemancar zarah alfa (a). Sinar radiasi ini akan berbahaya sebagai sumber internal, yaitu apabila kita menghirup udara (inhalasi), gas radon dapat masuk ke dalam paru-paru kita. Selain karena radiasi alfa dari radon itu sendiri, anak luruh radon seperti polonium yang juga radioaktif dan Pb-204 yang bersifat toksik akan terdeposit di paru-paru. Sel didominasi oleh air, sehingga interaksi radiasi dengan air akan menghasilkan berbagai ion, radikal bebas dan peroksida yang bersifat oksidator kuat. Molekul-molekul protein, lemak, enzim, DNA dan kromosom ini akan terserang oleh radikal bebas dan peroksida, dalam proses biokimia, yang akan berakibat pada efek somatik dan genetik.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Bradford D. Loucas, seorang ilmuwan dari Columbia University, Amerika Serikat, penyinaran radiasi partikel alfa dengan energi 90 keV/mm telah mengakibatkan pengaruh yang signifikan pada kondensasi dan fragmentasi kromosom. Bandingkan dengan partikel alfa yang dipancarkan oleh anak luruh radon di dalam jaringan yang setara dengan 90 sampai 250 keV/mm.

Selain hal di atas, radon juga salah satu penyebab kanker paru-paru. Jika terhirup, produk-produk peluruhan radon (bentuk padat dari polonium-218 dan polonium-214), baik yang melekat atau terlepas dari permukaan aerosol, debu dan partikel asap akan tersangkut atau terperangkap jauh di dalam paru. Sewaktu terjadi peluruhan, produk ini menghasilkan letupan kecil energi yang dapat meradiasi dan menembus sel-sel membran mukosa, bronkus dan jaringan paru lainnya. Diperkirakan bahwa energi radiasi pengion (ionizing) yang mempengaruhi sel epitel bronkus ini memicu proses karsinogenik. Gejala yang terjadi sangat lambat, sehingga sulit untuk mendeteksinya (no immediate symptoms). Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, gas radon memberikan kontribusi terjadinya kanker paru-paru sejumlah 7000 sampai 30.000 kasus setiap tahunnya. Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan EPA (Environmental Protection Agency) telah mengklasifikasikan gas radon sebagai bahan karsinogen (penyebab kanker) ”kelas A”, dan di Amerika Serikat termasuk penyebab kanker paru kedua setelah rokok. Pernyataan ini telah didukung oleh studi epidemiological evidence para pekerja tambang yang terpapar radiasi dari gas radon secara lebih intensif, melalui uji cause-effect antara paparan radon dan angka kematian kanker paru-paru (dose and respon curve).

Efek radon dalam jumlah aktivitas yang kecil (dari alam), bersifat probabilistik (stokastik), artinya peluang atau kebolehjadian terkena efek tergantung pada dosis yang diterima. Semakin besar dosis yang diterima, berarti peluang terkena kanker paru-paru akan semakin besar, namun tidak ada kepastian untuk terkena efek tersebut. Meskipun risiko gas radon bersifat probabilistik, namun angka penderita kanker paru-paru akibat paparan gas radon tersebut harus tetap diwaspadai. Terlebih, di daerah vulkanik dan rentan gempa, yang sangat memungkinkan terjadinya emanasi gas radon. Asap rokok dikombinasikan dengan paparan radiasi radon akan memberikan efek sinergistik terjadinya kanker paru.

EPA telah merekomendasikan bahwa jika di dalam rumah ada aktivitas gas radon melebihi 4 pCi/liter, maka harus ada perbaikan rumah.

Di samping efek negatifnya, alam selalu memberikan keseimbangan. Radon sangat bermanfaat sebagai alat pendeteksi dini kegiatan vulkanik, sehingga dapat berperan dalam memitigasi bencana gunung api, meskipun sampai saat ini masih dalam skala eksperimen.[17]

 

 

USAHA MENGURANGI KONSENTRASI RADON

       Konsentrasi radon dalam ruangan baik ruangan di perkantoran maupun tempat tinggal, saat dipengaruhi oleh kondisi dan posisi ruangan tersebut. Dinding dan lantai ruangan yang terbuat dari bahan beton juga memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap konsentrasi radon.

       Ruangan tertutup dengan sirkulasi udara relatif terbatas, konsentrasi radonnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan terbuka. Ruangan tertutup yang tidak ada kurangnya sirkulasi ke udara luar, lebih sering dijumpai pada ruangan-ruangan yang memiliki AC. Konsentrasi radon akan semakin meningkat jika pada dinding-dinding ruangan tersebut terdapat retakan ataupun plester yang kurang baik. Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsentrasi radon tanpa merubah kondisi bangunan yang ada adalah dengan memperbaiki sirkulasi udara ada sistem ventilasi, sehingga terjadi pertukaran udara dalam ruangan dengan udara lingkungan. Sein dari itu, kondisi plesteran dinding dalam ruangan juga perlu diperhatikan, misalnya menutup bagian-bagian yang retak dengan  pengecatan yang baik dan merata. Mengganti lantai dengan bahan keramik/porselen jika lantai terbuat dari tegel.

       Di negara-negara maju, disamping telah dilakukan pengukuran dengan berbagai metode dan kondisi dimana gas radon itu berada, juga telah memulai dikembangkan metode untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh gas radon. Sebagai contoh, pada daerah Wyoming dan Tennese di Amerika  memiliki jenis batuan yang umumnya sangat tua dan memancarkan gas radon dalam jumlah besar. Untuk mengatasi permasalahan gas radon di daerah tersebut, diperkenalkan prototipe rumah yang mampu mengusir atau mengurangi konsentrasi gas radon dalam ruangan. Di negara bagian Australia, pemerintah melalui Common Wealth Departement of Health, Housing and Community Services telah membuka pusat-pusat informasi mengenai resik yang sebenarnya dari gas radon tersebut.

 

PENUTUP

       Radon dan anak turunannya yang merupakan salah satu gas mulia yang sangat berbahaya bagi kesehatan, dapat dipantau konsentrasinya dengan metode langsung, kontinu, dan metode tidak langsung. Upaya untuk mengurangi konsentrasi radon di dalam ruangan perkantoran atau tempat tinggal dapat dilakukan dengan memperbaiki sirkulasi udara sehingga terjadi pertukaran antara udara dalam ruangan dengan udara luar.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. ANONIM, Radon Ni Holmes, informatif Bulletin No. 13, Australia Radiation Laboratory, 1990.
  2. BODANSKY, D., Overview of The indoor radon problem,  In Indoor radon and its hazards, edited Bay D. Bodansky, M.A. Robin, D.R. Stadler, University of Washington Press, 1987, Pp. 3-16.
  3. Hattori, T., ICHIJI, T., ISHIDA, K., Behavior of radon and its progeny Ni Japanese Office, Radiat. Prot. Dosim. Vol. 63 (3), Pp. 151-155, 1995.
  4. NRPB Information, Radon , National Radiological Protection Board.
  5. BUNAWAS, EMILINARTI, MINARNI, AFANDI, Penentuan laju paparan dari bahan bangunan menggunakan metode pasif dengan detektor jejak nuklir, Prosiding PIKRL PSPKR – BATAN, Agustus 1996.
  6. ICRP Publication 65, Protection Aganist Radon-222 at Home and at Works, 1993.
  7. Radiation Safety, 96-00725 IAEA/PI/A47e, April 1996.
  8. UNSCEAR Report 1986.
  9. NCRP, Evaluation of occupational and environmental exposures to radon daughter in The United States, NCRP Report No. 78, Bethesda, 1984.

10. NCRP Report No. 50, Environtmental Radiation Maesurment, Bethesda, 1976.

  1. HESS C.T., WEIFFENBACH C.V., NORTON S.A., BRUTSAERT W.F., AND HESS A.L., Radon-222 in portabel Water supplies in Marine : The geolog, hydrology, physics and Health effect, In : Natural Radiation Environtment, edited Bay K.G. Vohra et al., pp.216-220, New Delhi, 1982.

12. JOSEPH, A.B et. al., Sources of radioactivity and their characterization, in Radioactivity in the Marine Environment, National Academy of Science, Washington DC, pp.6-41, 1971.

13. COLLE, R, RUBIN, RJ., KNAB L.I., and HUTCINSON, J.M.R., Radon Transport trough and exhalation from Building material : A review and assessment, NBS Tech. Note 1139, 1981.

14. AFFANDI, Pengukuran radionuklida alam pada bahan bangunan blaster Board fosfogipsum dengan menggunakan spektrometer gama, Skripsi S-1, Jerusan Fisika FMIPA UI, 1996.

15. NEVISSI, A.E., Methods for detction of radon and radon daughters, In : Indoor radon and its hazards, edited Bay D. Bodansky, M.A. Robkin, D.R. Stadler, University of Washington Press, 1987,pp.30-41.

16. GENKA, T, Radioactivity in dus, BATAN-JAERI TC on Radiation Protection, 1997

17. Susilo, Yarianto S Budi. Mewaspadai Radon Di Lingkungan Kita. WWW Google (berkala sambung jaring) http://sinarharapan.co.id/berita/0210/09/ipt03.html,

18.  buletin Alara

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s