ringkasan toksiko 12

1. Faktor faktor yang mempengaruhi berat ringannya keracunan.

  1. Sifat keracunan :

Keracunan akut

Kercunan kronis(manahun)

Keracunan sistemik – mempengaruhi kerusakan organ bagian dalam jantung,ginjal,hati

  1. Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Melalui aspirasi

Melalui mulut(pencernaan)

Melalui absorpsi kulit,kontak dengan zat toksik

  1. Sifat bahan toksik

–     Racun bersifat korosif dan iritatif, yaitu racun yang merusak jaringan selaput lendir pada alat pernafasan, alat pencernaan dan kulit

–     Racun yang merusak syaraf (neuro toxis) seperti bisa ular, racun yang merusak syarat pusat (central neruous depression) contoh CS2

–     Racun yang merusak sel darah (hematoksis dan hemapotik) contoh senyawa arsen, bisa ular

  1. Banyaknya bahan toksik yang masuk ke dalam tubuh
  2. Jenis dan kadar racun = kuat sedang atau lemah
  3. Sifat kimia dan fisika zat toksik

–     Kecepatan absorbsi, daya larut, struktur kimianya mempengaruhi metabolisme

–     Besar partikel (fisika) mempengaruhi daya penetrasi kedalam paru-paru

Keracunan bahan toksik dapat secara akut dan secara kronis (menahun) dalam waktu cukup lama setelah berkontak dalam waktu lama dengan bahan toksik

Keracunan kronis dapat terjadi disebabkan karena keracunan dalam konsentrasi rendah, tetapi  terjadi berulang-ulang sehingga menimbulkan penimbunan(kumulatif) dalam tubuh, karena tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh.

2. Amonia dalam suhu kamar berupa gas dan tak berwarna, berbau merangsang, lebih ringan daripada udara. Amonia mudah larut dalam air, dapat bersifat basa misalnya amonia liquida. Penyimpanan harus hati hati, karena mudah meledak.

Amonia sering dipakai dalam industri bahan oranik sintetis, pembuatan obat obatan, industri petrokimia, bahan anti beku pada alat alat pendingin.

Amonia dapat mengiritasi selaput lendir dan paru paru menjadi bengkak (oedema paru paru) atau pneumonitis, laryngitis, tracheatis.

3. Gas H2S terdapat pada kegiatan industri, misalnya pabrik kertas , pabrik benang tiruan, pabrik rayon, industri tekstil yaitu pada proses pencelupan (pewarnaan ). Sumber bahaya timbul akibat pembebasan asam sulfide di udara pada proses dekomposisi persenyawaan yang mengandung sulfur.

Gas H2S dalam konsentrasi rendah, sudah dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan,terutama karena gas H2S bersifat merangsang melalui penyerapan (absorbstion). Dala konsentrasi rendah gas H2S dapat mengakibatkan bengkak, rasa perih pada mata, gangguan pada sistem pernafasan, pusing, badan jadi lemah dan sakit pada otot otot.

Dalam konsentrasi tinggi mengakibatkan kelumpuhan (paralysis), mempengaruhi sistem syaraf sentral menyebabkan ketidak sadaran dan terhentinya pernafasan (mungkin asphyxia). Gas H2S dapat berinteraksi dengan darah , bergabung dengan hemoglobin yang mengakibatkan keadaan darah menjadi tidak normal dan menyebabkan gangguan pada sel sel syaraf pusat yang berakibat keumpuhan system pernafasan (asphyxia).

4. Logam berat :

Bila masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gangguan pada tubuh(racun),karena tubuh tidak memerlukannya.

Logam berat esensial : Tubuh memerlukannya, tapi kalau berlebihan akan menjadi racun

Batas logam berat :

  1. Memiliki berat jenis tinggi (>4)
  2. Mempunyai nomor atom antara 22-34 dan 40-50 dan unsur-unsur lantanida dan aktanida
  3. Mempunyai respon biokimia yang khusus dengan makhluk hidup

Contoh : logam berat : Pb , Cd, Hg, Cr

Logam berat esensial : Cu, Zn, Ni.

Keberadaan logam berat : pertambangan, pertanian, penelitian

Keberadaan logamberat di lingkungan sebaiknya dihindari atau ditanggulangi

–     Timbal , industry baterei, kabel, elektronik

–     Arsen, industry pembuatan racun serangga

–     Barium, industry bahan elektronik

–     Kromium, industry penyamakan kulit

–     Kadmium, industry pelapisan logam

–     Merkuri, industry alat-alat listrik

–     Tembaga, industry kimia, otomotif

–     Timah, industry penambangan timah

–     Nikel, industry logam, elektronik, kimia

–     Nitrogen oksida, Industry Nitrogen

–     Sulfur Oksida, industry asam

 

5. Efek pada Haematopoitic system

  • Mengambat sintesis Hb dalam sumsum tulang
  • Memperpendek umur Hb, karena Hb menjadi mudah pecah/ lisis→shg Pb sebagai hemolytic agent
  • Kedua hal diatas menyebabkan anemia berat
  • Gangguan metabolisme Fe dan sintesis globin dalam Hb
  • Gangguan aktivitas beberapa jenis enzym yang ada hubungannya dengan sistem darah :

–     Delta – aminolevulinate dehydratase (ALAD)

–     Haem synthetase atau ferrochelatase

–     Coproporphyrinogen decarboxylase

→ dari ketiga hal menyebabkan meningkatnya ALA dan korproporpirin dalam urin, dan proporpirin dalam Hb

Efek pada gastrointestinal system :

  • Colon spasm/colic → kejang pada usus besar
  • Nause (mual)
  • Vomiting (muntah)
  • Anorexia (napsu makan turun)
  • Constipation (sembelit)

Efek pada ginjal

  • Nepharitis →radang ginjal
  • Hyperuricemia → kadar asam urat dalam darah tinggi
  • Glycosuria → ada gula dalam urin
  • Hyoperaminoaciduria → asam amino dalam urin tinggi
  • Kadar urea dalam darah meningkat

Dampak paparan Pb bagi anak2 ?

  • Anak – anak mengalami pertumbuhan otak optimum sampai usia 5 tahun
  • Paparan Pb- > fume Pb di udara -> inhalasi -> system darah -> akan menembus barrier darah otak dan menimbulkan kerusakan CNS
  • Akibatnya kapasitas mental/otak tidk berkembang optimal

è Retardasi mental, IQ rendah / otak, apatis, malas, kurang kreatif, produktivitas rendah

è Permasalahan bangsa/generasi

è Perlu solusi

Salah satu kebijakan -> perlu mengganti bensin mengandung TEL dengan bensin bebas Pb

 

6. Prinsip pertolongan pada peritiwa keracunan adalah mencegah penyebaran bahan toksik ke dalam tubuh dengan  cara :

  1. Emetic, yaitu mengeluarkan bahan toksik yang terlannjur masuk ke dalam tubuh(termakan/terminum) dengan jalan memuntahkan, atau memberikan obat pencahar(laxar/obat kuras) untuk mencegah absorpsi oleh usus dalam mempercepat pengeluaran defekasi (buang air besar)
  2. Catharic, yaitu mencuci / menguras lambung (gastric lavage) dengan menggunakan cathater(slang karet) lambung melalui mulut memakai air hangat biasa atau larutan khusus lambung (dilakukan di rumah sakit)
  3. Neutralizer, yaitu menetralkan racun dengan jalan memberi obat antidotum khusus atau antidotum universal.
  4. Mengencerkan bahan toksik dengan cara minum sebanyak-banyaknya(sebagai pertolongan pertama)
  5. Mengikat bahan toksik (racun logam) dengan obat antidot khusus seperti BAL (British anti lewisite), dimercapol(disuntikkan) biasanya untuk keracunan Hg, Co, As, Ni, Au tapi tidak bisa menetralisir Pb
  6. Memberikan antidota secara manual, misal dengan arificial respiration atau memberikan oxygen kepda peristiwa asphyxia (misalnya pada peristiwa keracunan gas H2S)
  7. Pada peristiwa keracunan yang berakibat kerusakan jaringan tubuh, dapt diberikan obat antibiotik untuk mencegah infeksi lebih lanjut.

Catatan :

Orang awam yang sudah tahu teknik pertolonga pertama keracunan boleh melakukan untuk butir 1,3, dan 4  pertolongan yang lain dikerjakan di rumah sakit atau dokter

 

  1. 7.  a. Efek pada system Haematopoitic
  • Mengambat sintesis Hb dalam sumsum tulang
  • Memperpendek umur Hb, karena Hb menjadi mudah pecah/ lisis→shg Pb sebagai hemolytic agent
  • Kedua hal diatas menyebabkan anemia berat
  • Gangguan metabolisme Fe dan sintesis globin dalam Hb
  • Gangguan aktivitas beberapa jenis enzym yang ada hubungannya dengan sistem darah :Delta – aminolevulinate dehydratase (ALAD)

Haem synthetase atau ferrochelatase

Coproporphyrinogen decarboxylase

→ dari ketiga hal menyebabkan meningkatnya ALA dan korproporpirin dalam urin, dan proporpirin dalam Hb

b. Efek pada gastrointestinal system :

  • Colon spasm/colic → kejang pada usus besar
  • Nause (mual)
  • Vomiting (muntah)
  • Anorexia (napsu makan turun)
  • Constipation (sembelit)

c. Efek pada ginjal

  • Nepharitis →radang ginjal
  • Hyperuricemia → kadar asam urat dalam darah tinggi
  • Glycosuria → ada gula dalam urin
  • Hyoperaminoaciduria → asam amino dalam urin tinggi
  • Kadar urea dalam darah meningkat
  •  

8. pestisida kimiawi organic sintetis antara lain :

golongan Organochlorine (OC)

  1. Toksisitas tinggi : endrin (hexadrine)
  2. Toksisitas sedang : aldrin, dieldrine, DDT, BHC

Golongan organophosphate (OP)

  1. Toksisitas tinggi :phorate, pharathion,TEPP
  2. Toksisitas sedang : diaziron, malthion,chlorpyritos

Golongan carbamate (c)

  1. Toksisitas tinggi : temik, carbofuran, methonyl
  2. Toksisitas sedang : baygon, lndrin, carboryl

 

9. Sumber pencemaran air :

  1. Kegiatan pertambangan , eksploitasi biijih logam, eksploitasi batubara dan eksploitasi mineral lainya timbul endapan ion ion logam dengan bantuan thiobaccillus dan ferrobaccillus :

Contoh oksidasi pirit menghasilkan “airbuangan tambang yang bersifat asam”:

 

FeS2+ 2H2O + 7O2       ->     4H+ + 4SO22- + 2 Fe3+

4Fe2+ + O2 + 4H+         ->     4 Fe3+ + 2H2O

FeS2 + 14 Fe3+ + 8H2O    ->  15 Fe2+ + 2SO42- + 6 H+

Fe3+ + 3 H2O +           ->   Fe(OH)2 + 3H+

 

Air buangan tersebut menjadi tercemar yang cukup srius tergantung jenis tambangnya, ion ion logam yang akan muuncul antara lain : Fe, Mn, Zn, Cu, Ni, dan Co.

Sebagai tambahn kegiatan proses pengambilan bijih , peleburan dan penyulingan minyak akan dihasilkan logam tambahan : Pb, Zn, Cu, As, dan Ag

  1. Air limbah rumah tangga :

Sampah yang metabolik, korosi pipa air menghasilkan logam : Cu, Pb, Zn, Cd,  sedangkan detergen memberikan Fe, Mn, Cr, Ni, Co, Zn, B, dan As

  1. Limbah dan buangan industri

Banyak jenis industri yang menghasilkan logam dan dibuang ke lingkungan perairan .

Tabel : jenis logam di dalam air limbah industri (rata rata µg/l)

No

Industri/kegiatan

Cu

Cr

Ni

Zn

Cd

1

Pengelolaan dagiing

150

150

70

460

11

2

Pengolahan lemak

220

210

280

3890

6

3

Pengolahan Ikan

240

230

140

1590

14

4

Pembuatan roti/kue

150

330

430

280

2

5

Berbagai makanan

350

150

110

1100

6

6

Minuman keras

410

60

40

470

5

7

Minuman Ringan

2040

180

220

2990

3

8

Es Krim

2700

50

110

780

31

9

Pewarnaan tekstil

7040

20140

740

1730

115

10

Pemakaian zat kimia

160

280

100

800

27

11

Pencucian pakaian

1700

1220

100

1750

134

12

Pencucian mobil

180

140

190

920

18

 

  1. Aliran pertanian / irigasi :

Mengingat jenis pertanian bermacam macam, maka jenis logam yang ikut arus terbawa arus air juga bermacam macam. Logam logam dari daerah pertanian dapat berasal dari pupuk (P), herbisida, pestisida, dan fungisisda.

10. 1. Tragedi Bhopal 

Pada tanggal 3 Desember 1984, terjadi ledakan besar di pabrik pestisida Union Carbide milik Amerika yang terletak di kota Bhopal, di negara bagian Madhya Pradesh di India. Ledakan terjadi akibat kebocoran 40 ton gas methyl isocyanate(MIC) dan gas-gas kimia lainnya itu telah membunuh 4,000 orang hanya dalam beberapa jam. Hingga kini, angka korban yang tewas telah meningkat sampai 20.000 orang. Ratusan ribu lainnya yang masih hidup dengan menderita dampak gas berbahaya itu. Para korban tregedi Bhopal ini masih mendapat kesulitan dalam mengklaim ganti rugi dari perusahaan AS itu.

Hingga kini, pabrik Union Carbide terus berdiri meskipun kepemilikannya sudah beralih tangan. Pemilik baru dari perusahaan itu (Dow chemical) menolak bertanggung jawab atas kehidupan para korban tragedi Bhopal. Union Carbide sepakat membayar ganti rugi 470 juta dollar tahun 1989; tapi para korban mengatakan hanya mendapat sebagian kecil saja dari ganti-rugi itu.

Pabrik Union Carbide ini dibuka pada 1969 dan diperluas untuk menghasilkan karbaril pada 1979. Methyl Isocyanate (MIC) merupakan produk perantara untuk memproduksi karbaril. Pabrik ini awalnya dimiliki oleh Union Carbide India, Limited (UCIL). Pada tahun 1994, kepemilikan saham UCIL beralih ke MacLeod Russell (India) Limited of Calcutta, dan UCIL pun mengalami perubahan nama menjadi Eveready Industries India, Limited (Eveready Industries).

Penyebab terjadinya ledakan adalah dimasukkannya air ke dalam tangki-tangki berisi MIC. Reaksi yang kemudian terjadi menghasilkan banyak gas beracun dan memaksa pengeluaran tekanan secara darurat. Gasnya keluar sementara penggosok kimia yang seharusnya menetralisir gas tersebut sedang dimatikan untuk perbaikan.

Penyelidikan yang dilakukan menyatakan bahwa beberapa langkah keselamatan lainnya tidak dijalankan dan standar operasi di pabrik tersebut tidak sesuai dengan standar di pabrik Union Carbide lainnya. Selain itu, ada kemungkinan langkah-langkah keselamatan tersebut dibiarkan sebagai bagian dari “prosedur penghematan” yang dilakukan perusahaan tersebut di pabrik itu.[1]

  1. 1.   Kasus Pencemaran di Teluk Meksiko

 

Lebih dari dua tahun setelah kasus tumpahan minyak oleh British Petroleum (BP) di Teluk Meksiko, 20 April 2010 lalu, organisasi lingkungan Greenpeace menerima foto-foto kerusakan pada kehidupan penyu laut di daerah tersebut. Teluk Meksiko adalah sebuah bagian dari Laut Karibia yang dibatasi oleh Meksiko di sebelah barat dan selatan serta Amerika Serikat di sebelah utara dan barat. Luas teluk ini adalah 1,6 juta km².[2]

Dalam 58 hari setelah kejadian, baik BP maupun satuan Penjaga Pantai (Coast Guard) belum mampu mengatasi bocornya sumur minyak di Teluk Meksiko, yang mengeluarkan sekitar 2,52 juta galon per hari. Kebocoran itu berawal dari ledakan kilang minyak milik BP pada Dari perusahaan minyak yang berbasis di Inggris itu 20 April lalu, yang menewaskan sebelas pekerja. Ledakan anjungan minyak sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana itu, setiap hari memompa minyak mentah 8.000 barel atau setara dengan 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya. Kebakaran anjungan minyak itu menyebabkan sejumlah pekerja hilang dan luka-luka setelah berupaya melompat dari ketinggian 100 meter ke laut untuk menyelamatkan diri. Jutaan barel minyak mentah dari sumur yang bocor di bawah laut itu terus menyebar ke seluruh perairan selatan AS. Banyak penghuni laut yang mati dan ini juga mematikan mata pencaharian para nelayan Amerika dan warga setempat. [3]

  1. 2.  Kasus Pencemaran di Laut Timor

 

Kilang minyak Montara milik Australia bocor di Celah Timor pada 21 Agustus 2009 dan kemudian mencemari Laut Timor hingga ke perairan selatan Indonesia, terutama di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Laut Timor, menyebabkan tumpahan minyak yang jauh lebih besar dari produksi Kilang Montara yakni 500.000 liter per hari. Dengan volume minyak sebanyak itu, tentu menimbulkan efek pencemaran yang dahsyat di wilayah perairan antara Indonesia dan Australia, sampai-sampai terasa di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua, apalagi di pantai selatan Pulau Timor sebagaimana dirasakan nelayan Kolbano di Timor Tengah Selatan.[4]

Pencemaran di laut Timor, diakibat bocornya pipa pemboran di empat sumur minyak bumi di lokasi pemboran minyak bumi di Laminaria dan Corralina. Empat sumur milik Australia yang bocor itu sangat dekat dengan pulau-pulau terluar Indonesia sehingga akan mengancam biota laut dan keselamatan masyarakat. 

Menurut Tanoni dari West Timor Care Foundation (WTCF), pihaknya berkeyakinan Laut Timor telah tercemari akibat berbagai kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di perairan itu. “Sudah dapat dipastikan, bila terjadi kebocoran minyak maupun gas bumi maka yang paling banyak menderita adalah masyarakat Timor Barat, Rote-Ndao, Sabu, Sumba, Alor dan Timor Timur, bukan Australia Utara atau Australia Barat,” katanya. Namun ironisnya, 85 – 90 persen hasil kekayaan di Laut Timor dinikmati Australia dan Timor Leste.[5]

  1. 3.  Kasus Pencemaran Udara di London Inggris

 

Bencana kabut tebal dalam sejarah di London, Inggris, hingga saat ini masih menyisakan momok yang mengerikan bagi masyarakat. Pada Desember 1952, London diselimuti kabut tebal selama 4 hari berturut-turut, dalam tempo beberapa hari saja sekitar 4.700 jiwa jadi korban, dan dalam 2 bulan setelahnya merenggut nyawa sebanyak lebih dari 8.000 jiwa. Ini adalah bencana terparah sepanjang sejarah yang disebabkan oleh kabut.

Kabut Terdapat dua jenis utama asbut. Asbut fotokimia, seperti kasus di Los Angeles, dan asbut klasik seperti di London. Asap Kabut Klasik Merupakan asbut yang terjadi di London setelah terjadinya revolusi industry yang menghasilkan pencemaran besar-besaran dari pembakaran batu bara. Pembakaran ini menghasilkan campuran asap dan sulfur dioksida.[6]

KABUT ASAP(SMOG) AKIBAT PENCEMARAN UDARA

 

Pada Th. 1952 kota London gelap tertutup awan yang bukan awan hujan tetapi merupakan awan yang berisi kabut dan asap yang mengandung gas SO2 dan disebut dengan smog. Pada hari terjadi smog tersebut tercatat adanya 3000 warga kota London yang meninggal dan merupakan suatu kejadian langka karena dalam satu hari terjadi angka kematian yang sangat tinggi. Kasus serupa terjadi lagi tahun 1962 dan pada saat terjadi smog tersebut juga mengakibatkan 700 warga London meninggal.  

Dari penelitian diketahui bahwa smog dan sekarang dikenal sebagai smog fotokimia merupakan koloid ( aerosol) yang mengandung gas nitrogen dioksida (NO2) dan gas ozon (O3)yang berasal dari reaksi gas buang kendaraan bermotor dengan sinar matahari.

Gas buang kendaraan bermotor umumnya mengandung gas NO, CO dan hidrokarbon. Gas – gas itu tersebut selanjutnya akan mengalami reaksi fotokimia yaitu reaksi yang terjadi karena adanya foton (cahaya). Reaksi fotokimia ini menghasilkan polutan sekunder yang mengandung gas NO2 dan ozon (O3) yang akhirnya membentuk smog. Gas nitrogen monoksida akan bereaksi dengan gas O2 di udara membentuk gas nitrogen dioksida.

Salah satu hasil reaksi fotokimia tersebut adalah senyawa peroxy Acetil Nitrates (PAN) yaitu senyawa yang dapat menyebabkan mata perih dan berair serta menimbulkan sesak nafas. [7]

 

5. Kasus di Teluk Buyat Minahasa

Teluk Buyat merupakan teluk kecil yang terletak di pantai selatan Semenanjung MinahasaSulawesi UtaraIndonesia. Secara administratif, teluk ini berada di Kabupaten Minahasa Tenggara. Sejak tahun 1996Newmont Mining Corporation di bawah cabangnya PT. Newmont Minahasa Raya memanfaatkan teluk ini sebagai penimbunan tailing (limbah pertambangan) untuk aktivitas pertambangan emasnya. Pada tahun 2004, penduduk setempat di wilayah tersebut memprotes beberapa masalah kesehatan tak lazim yang lebih lanjut mencurigai Newmont melanggar peraturan kadar limbah pertambangan sehingga mencemari wilayah itu dengan bahan berbahaya. Walhi, aktivis lingkungan Indonesia, mengklaim Newmont menimbun 2.000 ton tailing ke teluk itu setiap hari. Pada tahun 2004, akhirnya aktivitas pertambangan ditutup sementara pemantauan lingkungan pasca-penambangan terus berlangsung hingga tahun 2008.

Teluk Buyat berada di sisi tenggara lengan semenanjung Sulawesi bagian utara, menghadap Laut Maluku. Di sekitar teluk ini tinggal sejumlah nelayan. Sejak tahun 1996, Teluk Buyat digunakan sebagai daerah penimbunan untuk Mesel Gold Mine, dijalankan oleh PT Newmont Minahasa Raya, perusahaan cabang Newmont Mining Corporation yang memiliki saham 80%. Tailing dari tambang emas itu merupakan cadas halus dan emas ditemukan di tempat itu. Jalur pipa dibangun untuk menyalurkan tailing dari daerah pertambangan ke teluk yang memanjang sekitar 900 m ke laut dan menimbun bahan itu pada kedalaman 82 m. Pada bulan Juli 2004, beberapa lembaga swadaya masyarakat memulai kampanye mendakwa PT Newmont Minahasa Raya mencemari Teluk Buyat dengan sengaja, yang menimbulkan efek samping pada kesehatan warga setempat.

Nelayan setempat melihat jumlah ikan yang mati mendadak amat tinggi disertai dengan pembengkakan yang tak biasa, hilangnya ikan bandeng muda dan spesies lain di wilayah teluk. Mereka juga mengeluhkan masalah kesehatan yang tak biasa seperti penyakit kulit yang tak dapat dijelaskan, tremorsakit kepala, dan pembengkakan aneh di leherbetispergelangan tanganbokong, dan kepala. Penelitian itu menemukan beberapa logam berat seperti arsenantimonmerkuri, dan mangan yang tersebar di sana dengan kepadatan tertinggi di sekitar daerah penimbunan.

Pada bulan November 2004WALHI (LSM lingkungan) bersama dengan beberapa organisasi nirlaba (Indonesian Mining Advocacy Network, Earth Indonesia, dan Indonesian Center for Environmental Law) mengumpulkan laporan yang lebih menyeluruh atas keadaan Teluk Buyat, menyimpulkan teluk itu dicemari oleh arsen dan merkuri dalam kadar yang berbahaya, sehingga berisiko tinggi bagi masyarakat. Sampel endapan dasar Teluk Buyat menunjukkan kadar arsen setinggi 666 mg/kg (ratusan kali lebih besar daripada Kriteria Kualitas Perairan Laut ASEAN yang hanya 50 mg/kg) dan kadar merkuri rata-rata 1000 µg/kg (standar yang sama menetapkan 400 µg/kg).[8]

6. Limbah Minamata, Kasus Pencemaran Merkuri

Pencemaran akibat limbah merkuri pernah terjadi di kawasan Teluk Minamata Jepang tahun 1950-an lalu. Sekitar 3 ribu warga menjadi korban dan mengalami berbagai penyakit aneh yang kemudian disebut sebagai penyakit Minamata. Minamata adalah sebuah teluk dengan kota kecil di Jepang. Kota Nelayan menghadap ke laut Siranul, Jepang ini, menjadi terkenal ke seluruh dunia. Karena lebih dari 3 ribu warga kota ini pernah menderita penyakit yang diakibatkan pencemaran logam raksa atau merkuri. Limbah merkuri di Perairan Minamata berasal dari perusahaan Nippon Mitrogen Vertilaser yang merupakan cikal bakal Ciso Go LTD dengan produksi utama pupuk Urea.

Akibat limbah merkuri tersebut, warga menderita penyakit dengan ciri-ciri sulit tidur, kaki dan tangan merasa dingin, gangguan penciuman, kerusakan pada otak, gagap bicara, hilangnya kesadaran, bayi-bayi yang lahir cacat hingga menyebabkan kematian.

Penyakit aneh ini kemudian dikenal dunia dengan nama Penyakit Minamata. Penyakit Minamata tidak hanya menyerang manusia. Tetapi juga binatang yang mengkonsumsi bahan makanan yang tercemar merkuri atau menghirup udara yang mengandung merkuri.

Parahnya, penyakit Minamata tidak ada obatnya. Tahun 1956, kecurigaan mulai muncul setelah Direktur Rumah Sakit Ciso melaporkan ke Pusat Kesehatan Masyarakat Minamata. Atas masuknya gelombang pasien dengan gejala sama, kerusakan sistem syaraf. Namun penyakit Minamata ini, amat lambat penanganannya oleh Pemerintah Jepang. Baru 12 tahun, yakni pada tahun 1968, pemerintah Jepang mengakui, penyakit aneh ini bersumber dari limbah Ciso yang dibuang ke Perairan Minamata.[9]

Kasus pencemaran air di Sungai Minamata, Jepang ( 1973)  oleh buangan pabrik plastik yang menggunakan bahan baku vinilklorida dan asetaldehida. Pabrik ini membuang limbahnya yang mengandung Hg ke Teluk Minamata  dan Hg masuk pula ke Sungai Minamata. Ikan-ikan yg berada dalam perairan tersebut mengandung 27-102 ppm berat kering Hg. Selama tahun 1953-1960 ditemukan keracunan Hg pada 111orang nelayan yg awalnya merasa cepat lelah, sakit kepala, lengan dan kaki kebas, sulit menelan, penglihatan kabur dan lapangan penglihatan menciut. Mereka kemudian menjadi sulit mendengar dan   kehilangan koordinasi otot-ototnya. Beberapa orang merasa seperti ada logam di mulit dan penderita diare terdapat banyak sekali.

 

Tragedi Tanjung Priok

pihak Bea dan Cukai menahan lagi 3.446 kontainer yang diduga sejenis. Di luar itu, ratusan kontainer masuk lewat Tanjung Mas, Tanjung Perak, dan Pelabuhan Belawan.

”Bea dan Cukai meminta kami memeriksa isi kontainer-kontainer itu,” kata Deputi IV Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah B3, dan Sampah, Masnellyarti Hilman, di Jakarta, Selasa (28/2). KLH diminta memeriksa 1.271 kontainer yang berada di Tanjung Priok.

Hasilnya, 399 kontainer terkontaminasi, 36 tidak terkontaminasi, 630 belum diperiksa, dan 206 belum dilaporkan. Jumlah itu di luar 113 kontainer impor limbah gelombang pertama akhir Januari 2012 yang dinyatakan terkontaminasi limbah B3.

Pihak KLH siap mengerahkan seluruh sumber daya untuk memeriksa dan memproses kasus hingga ke pengadilan. ”Saksi- saksi terus diperiksa,” kata Deputi V KLH Bidang Penaatan Hukum Lingkungan Sudaryono.

Hasil uji

Hasil uji sementara Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan di bawah KLH, mayoritas sampel material yang diuji bersifat korosif dan beracun. Jenis limbah B3 di antaranya timbal, arsen, seng, dan krom yang total konsentrasinya melebihi ambang batas normal.

”Kalau terpapar ke lingkungan berisiko bagi kesehatan dan lingkungan,” kata Henry Bastaman, Deputi VII KLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas. Uji karakteristik menguji kadar terbakar, beracun, korosif, dan reaktif.

Menurut Masnellyarti, importir PT HHS secara hukum melanggar izin. Izin dari Kementerian Perdagangan atas rekomendasi KLH adalah impor besi tua dengan syarat bersih dan tidak mengandung limbah B3.

Secara visual, isi kontainer berupa besi, serbuk, tanah, aspal, karet, dan oli bekas, yang di antaranya mengeluarkan bau kimia menyengat. Importir dinilai melanggar UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH dan UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s