makalah halogenasi

BAB I PENDAHULUAN

 

Halogenasi diambil dari kata halogen yaitu anggota golongan unsur yang sangat aktif, terdiri dari fluorin, bromin, iodin, klorin, atau astatin, yang mempunyai sifat kimia sama. Sedangkan halogenasi tersebut merupakan prosesnya yaitu pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, baik secara penambahan (adisi) maupun secara penggantian (substitusi).

Halogenasi merupakan reaksi yang terjadi antara ikatan karbon-karbon rangkap (C=C) pada senyawa-senyawa alkena seperti etena dengan unsur-unsur halogen seperti klorin, bromin dan iodin.

Reaksi halogenasi sendiri telah banyak digunakan di industri-industri organik maupun non-organik. Dalam makalah ini akan industri yang menggunakan reaksi halogenasi yaitu industri plastik. Di dalam industri plastik terdapat pembuatan PVC dimana bahan baku PVC yaitu terdiri dari monomer vinil chlorida yang merupakan bahan baku utama nya dan di dalam pembuatan monomer tersebut terdapat reaksi halogenasi di dalamnya seperti yang akan di jelaskan pada makalah ini nantinya.


 

BAB II REAKSI HALOGENASI

 

Halogen adalah anggota golongan unsur yang sangat aktif, terdiri dari fluorin, bromin, iodin, klorin, atau astatin, yang mempunyai sifat kimia satu dengan yang lain sama.

 

2.1.Pengertian Halogenasi

Halogenasi adalah pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, baik secara penambahan (adisi) maupun secara penggantian (substitusi).

Halogenasi merupakan reaksi yang terjadi antara ikatan karbon-karbon rangkap (C=C) pada senyawa-senyawa alkena seperti etena dengan unsur-unsur halogen seperti klorin, bromin dan iodin.

Reaksi halogenasi adaalah reaksi yang terjadi pengikatan satu atau lebih atom halogen (F, Cl. Br, I) pada senyawa organik.

 

2.2.Reaksi Halogenasi

Secara umum, jenis reaksi yang terjadi :

  1. Adisi

Contoh :

 

  1. Subtitusi

Contoh :

 

  1. Penggantian gugus (replacement)

Contoh :

 

 

Klorinasi

  1. Reaksi langsung dengan gas khlorine

Contoh :

 

  1. Reaksi dengan HCl

Contoh :

 

  1. Reaksi dengan Natrium hypoklorit
  2. Khlorinasi dengan phosgen (COCl2) dan benzpotrikhlorida (C6H5CCl3)
  3. Khlorinasi dengan thionylkhlorida (SOCl2)

Contoh :

 

  1. Khlorinasi dengan sulfury khlorida (SO2Cl2)
  2. Khlorinasi dengan phospor khlorida

Contoh :

 

 

 

  1. Reaksi sandmeyer

Contoh :

 

  1. Reaksi Gattermann

Contoh :

 

 

Brominasi

Reagen yang digunakan bisa bromine, bromida, bromat dan garam alkali hipobromit. Br larut dalam air, namun untuk mendapatkan konsentrasi tinggi harus menggunakan pelarut KBr.

 

Iodinasi

Ikatan yang terjadi antara C-I lebih lemah dibandingkan dengan C-Cl dan C-BR, sehingga reaksi iodinasi perlu senyawa lain sebagai media.

Contoh :

 

 

Flourinasi

  1. Gas flourin (F2)

Contoh :

 

  1. Asam flourida (HF)

Contoh :

 

  1. Garam alkali

Contoh :

 

  1. Senyawa Diazo

Contoh :

 

Pada reaksi flourinasi, baik adisi maupun subtitusi menghasilkan panas yang sangat besar.

Secara umum thermodinamika halogenisasi, energi ikatan makin menurun sesuai urutan F-Cl-Br-I.

Pada reaksi subtitusi bila dihubungkan dengan efek panasnya, maka sebagai berikut:

  • Flourinasi sangat-sangat eksotermis
  • Khlorinasi sangat eksotermis
  • Brominasi eksotermis
  • Iodinasi endotermis

Pada reaksi adisi secara keseluruhan juga sangat eksotermis, sedangkan reaksi subtitusi adalah endotermis.

 

 

2.3.Halogenasi pelarut

Menurut Dr. Dmitri Kopeliovich : Pelarut terhalogenasi adalah pelarut yang molekulnya mengandung atom halogenic: klorin (Cl), fluor (F), brom (Br) atau yodium (I).

Jenis-jenis pelarut terhalogenasi

  1. 1.      Pelarut Diklorinasi

Pelarut diklorinasi umum adalah Trichlorethylene (ClCH-CCl2), Perchlorethylene (tetrakloroetilena, Cl2C-CCl2), Metilen klorida (CH2Cl2), Karbon tetraklorida (CCl4), Kloroform (CHCl 3), 1,1,1-trikloroetana (kloroform metil, CH3-CCl).

Diklorinasi pelarut digunakan dalam pembersihan kering, pembersih logam, degreasing, aerosol otomotif, percetakan, kertas dan industri tekstil, penghapusan cat, industri mebel, Termoplastik produksi.

Pengaruh pelarut diklorinasi bagi kesehatan:

1)      Mempengaruhi sistem saraf pusat, ginjal dan hati, menyebabkan dermatitis dan iritasi kulit, mata, saluran pernapasan atas dan selaput lendir.

2)      Lebih-paparan di ruang berventilasi buruk dapat mengakibatkan depresi, sakit kepala, mengantuk, ketidaksadaran dan bahkan kematian.

3)      Beberapa pelarut klor menyebabkan kanker pada tikus dan mencit pada tingkat eksposur yang tinggi.

Menurut Institut Nasional untuk Keselamatan Occupatuional (NIOSH), Program Toksikologi Nasional (NTP), Badan Internasional untuk Penelitian pada Konferensi Kanker (IARC) dan Amerika Hygienists Industri Pemerintah (ACGIH) :

a)      Trichlorethylene adalah senyawa karsinogenik

b)      Perchlorethylene tidak diklasifikasikan sebagai karsinogenik.

c)      Metilen klorida merupakan karsinogenik potensial (ACGIH)

d)     Karbon tetraklorida adalah senyawa karsinogenik, Cat karsinogen. 3 (ACGIH); 3 (ACGIH).

e)      Kloroform adalah senyawa karsinogenik.

f)       1,1,1-trikloroetana tidak terdaftar sebagai karsinogenik.

Pengaruh pelarut diklorinasi bagi lingkungan:

Uap dari pelarut menurunkan diklorinasi di atmosfer untuk jangka waktu antara satu minggu (trichlorethylene), untuk 5-6 bulan (perchlorethylene dan metilen klorida).

Potensi Penipisan ozon (ODP) dari karbon tetraklorida dan kloroform tinggi (lebih dari 0,2) dan penggunaannya dilarang. ODP dari trichlorethylene, perchlorethylene dan metilen klorida rendah dan mereka tidak diatur oleh Montreal Protokol.

Tumpahan pelarut diklorinasi ke tanah atau air menyebabkan kontaminasi. Metilen klorida adalah biodegradable. Pelarut diklorinasi lain menurunkan hanya setelah reavaporation ke atmosfer.

Kontribusi pelarut diklorinasi untuk pemanasan global, hujan asam produksi dan pembentukan asap rendah.

  1. 2.      Pelarut Fluorocarbon

Contoh pelarut fluorocarbon: Dichlorofluoromethane (freon 21, CHCl2 F), Trichlorofluoromethane (Freon 11, CCl3 M), Tetrafluoromethane (Freon 14, CF4), Difluorodichloromethane (Freon 12, CHCl2F2), Hydrochlorofluorocarbon (Chlorodifluoromethane, Freon 22, CHClF2).

Pelarut fluorocarbon banyak digunakan sebagai refrigeran.

Pengaruh pelarut fluorocarbon bagi kesehatan: dapat menyebabkan kerusakan jantung, pusing, sakit kepala, mual.

Pengaruh pelarut fluorocarbon bagi lingkungan: beberapa pelarut fluorocarbon (freon 11, freon 21) dilarang di sebagian besar negara karena potensi mereka yang tinggi ozon penipisan (Montreal Protocol).

  1. 3.      Pelarut Brominated

Contoh pelarut brominated: Etilen Dibromide (1,2-dibromoethane, BrCH2-CH2Br), chlorobromide metilen (Bromochloromethane, CH2BrCl), bromin metil (bromomethane, CH2Br).

Pelarut brominated digunakan sebagai aditif dalam bensin bertimbal, sterilants tanah, untuk manufaktur pestisida dan Fumigan.

 

Pengaruh pelarut brominated bagi kesehatan : mempengaruhi hati dan ginjal, menyebabkan dermatitis dan iritasi kulit, mata, saluran pernapasan atas dan selaput lendir. Menghirup brominated pelarut dapat menyebabkan pusing, kelemahan, depresi, sakit kepala, mengantuk.

Pengaruh  pelarut brominated bagi lingkungan: beberapa pelarut brominated (metilen chlorobromide, bromin metil) yang dilarang di sebagian besar negara karena potensi mereka yang tinggi ozon deplesi (Montreal Protocol).

  1. 4.      Pelarut Iodinasi

Contoh pelarut iodinasi:-butil iodida n (1-iodobutane, CH3CH2CH2CH2I), Metil iodida (iodomethane, CH3I), etil iodida (iodoethane, C2H5I), n-propil iodida (1-iodopropane, CH3CH2CH2I).

Iodinasi pelarut digunakan sebagai intermediet untuk berbagai bahan kimia, pewarna, Fumigan, media kontras X-ray, antiseptik, insektisida, senyawa surfaktan, citarasa dan aroma dan farmasi dalam pengujian untuk piridin.

Pengaruh pelarut iodinasi bagi kesehatan: Mereka diduga karsinogen dan dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata.

 

 

 

 

 

2.4.Reaksi-reaksi antara Alkena dengan Unsur-unsur Halogen

  1. 1.      Etena dengan fluorin

Etena bereaksi ledakan (eksplosif) dengan fluorin menghasilkan karbon dan gas hidrogen fluoride. Reaksi ini bukan merupakan reaksi yang bermanfaat, dan jarang dibahas pada pembahasan tingkat dasar.

 

  1. 2.      Etena dengan klorin atau bromin atau iodine

Reaksi yang terjadi antara etena dengan klorin atau bromin atau iodin adalah reaksi adisi.

Sebagai contoh, bromin ditambahkan membentuk 1,2-dibromoetana.

 

Reaksi dengan bromin terjadi pada suhu kamar.

Klorin bereaksi lebih cepat dibanding bromin, tapi sifat kimia reaksi cukup mirip.

Iodin bereaksi jauh lebih lambat, tapi sifat kimia reaksi juga mirip.

Reaksi dengan bromin jauh lebih mungkin ditemui dibanding reaksi dengan klorin dan iodin.

Penggunaan air bromin sebagai sebuah reaksi uji untuk alkena

Jika menggoncang sebuah alkena dengan air bromin atau menggelembungkan sebuah alkena wujud gas (seperti etena) melalui bromin cair murni atau melalui sebuah larutan bromin dalam sebuah pelarut organik seperti tetraklorometana, maka bromin yang berwarna coklat kemerah-merahan akan berubah warna (tidak berwarna).  

Sifat kimia reaksi uji

Reaksi uji ini menjadi rumit dengan adanya fakta bahwa produk utama yang dihasilkan bukan 1,2-dibromoetana. Air juga terlibat dalam reaksi, dan kebanyakan hasil reaksi adalah 2-bromoetanol.

 

 

2.5.Reaksi-reaksi antara Alkana dengan Unsur-unsur Halogen

  1. 1.      Alkana dengan fluorin

Reaksi ini menimbulkan ledakan (eksplosif) bahkan pada suhu dingin dan ruang gelap, dan cenderung dihasilkan karbon dan hidrogen fluoride.

Sebagai contoh:

 

  1. 2.      Alkana dengan iodin

Iodin tidak bereaksi dengan alkana – sekurang-kurangnya pada kondisi laboratorium yang normal.

  1. 3.      Alkana dengan klorin atau bromin

Tidak ada reaksi yang terjadi dalam kondisi gelap (tanpa cahaya).

Jika terdapat cahaya, reaksi yang terjadi sedikit mirip dengan fluorin, yakni menghasilkan sebuah campuran karbon dan hidrogen halida. Keagresifan reaksi berkurang tajam semakin ke bawah golongan mulai dari fluorin sampai klorin sampai bromin.

Reaksi-reaksi yang menarik terjadi dengan adanya sinar ultraviolet (begitu juga sinar matahari). Reaksi-reaksi ini disebut reaksi fitokimia, dan terjadi pada suhu kamar.

Metana dengan klorin

Reaksi substitusi terjadi dengan mekanisme dimana atom-atom hidrogen dalam metana digantikan oleh atom-atom klorin. Hasil reaksi adalah campuran klorometana, diklorometana, triklorometana dan tetraklorometana.

     

Campuran antara gas tidak berwarna dengan sebuah gas berwarna hijau ini akan menghasilkan hidrogen klorida dalam bentuk uap asap dan kabut cairan-cairan organik. Semua produk organik berbentuk cair dalam suhu kamar terkecuali klorometana yang merupakan sebuah gas.

Jika klorin diganti dengan bromin, kita bisa mencampur metana dengan uap bromin, atau menggelembungkan metana melalui cairan bromin – paparkan kedua prosedur ini terhadap sinar UV. Campuran gas yang terbentuk akan berwarna merah-coklat dan bukan hijau.

Reaksi-reaksi ini tidak bisa digunakan untuk membuat senyawa-senyawa organik yang dihasilkan dalam laboratorium karena campuran hasil reaksinya sangat sulit dipisahkan.

Reaksi alkana-alkana yang lebih besar dengan klorin

Sebagai contoh, dengan propana, akan diperoleh salah satu dari dua isomer berikut:

 

Jika salah satu dari dua isomer yang terbentuk ini hanya secara kebetulan tanpa ada faktor lain, maka bisa diperoleh jumlah isomer yang tiga kali lebih banyak dengan klorin pada atom karbon ujung. Ada 6 hidrogen yang bisa terganti pada atom-atom karbon ujung dan hanya 2 pada atom karbon tengah.

Sebenarnya, jumlah setiap dari dua isomer ini yang diperoleh hampir sama.

Jika digunakan bromin, kebanyakan hasil reaksi adalah isomer dimana bromin terikat pada atom karbon tengah, bukan pada atom karbon ujung.

 

2.6.Reaksi-reaksi antara Sikloalkana dengan Unsur-unsur Halogen

Dibawah sinar UV, siklopropana akan mengalami reaksi substitusi dengan klorin atau bromin. Akan tetapi, sikloalkana juga memiliki kemampuan untuk bereaksi dalam kondisi tanpa cahaya.

Dengan adanya sinar UV, siklopropana bisa mengalami reaksi adisi dimana cincinnya terputus. Sebagai contoh, dengan bromin, siklopropana menghasilkan 1,3-dibromopropana.

                 

Reaksi ini masih bisa terjadi dengan adanya sinar biasa – tetapi reaksi substitusi juga terjadi pada kondisi ini.

Struktur cincin terputus karena siklopropana mengalami regangan cincin. Sudut-sudut ikatan dalam cincin menjadi 60° dan tidak normal lagi yaitu sekitar 109.5° ketika karbon membentuk empat ikatan tunggal.

Timpang tindih antara orbital-orbial atom dalam pembetukan ikatan C-C tidak lagi seperti pada keadaan normal, dan terjadi tolak-menolak yang cukup besar antara pasangan-pasangan elektron ikatan. Sistem akan menjadi lebih stabil jika cincin terputus.

 

2.7.Pabrik kimia yang menggunakan proses halogenasi

  1. Pabrik Hexachlorobenzena
  2. Pabrik Vinyl Chloride
  3. Pabrik Tetrachloroethane
  4. Pabrik Allyl Chloride


 

BAB III PLASTIK

 

3.1.Plastik Konvensional

Plastik merupakan salah satu jenis polimer. Polimer lain yang umum diproduksi selain plastik adalah serat dan karet (elastomer). Polimer sendiri merupakan molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan unit ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan ini biasanya setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.

Berdasarkan survey, dari tahun 1970 sampai 2000, konsumsi plastik dunia makin meningkat jauh melebihi logam besi dan baja. Ada alasan-alasan ekonomis yang dapat diterima dalam kecenderungan tersebut. Plastik lebih ringan dan umumnya lebih tahan terhadap korosi. Seperti logam, plastik juga dapat dipadu untuk memperbaiki sifat-sifat fisiknya. Dan jika dihubungkan dengan kenaikan harga energi , plastik bisa diproduksi dan diproses dengan input energi yang lebih rendah daripada logam (Stevens, 2001). Jika diklasifikasi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan kegunaanya maka plastik dibagi menjadi  plastik komoditi dan plastik teknik(Platzer , 1981, Gillespie , 1986).

Plastik komoditi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (Stevens, 2001)

– volume yang tinggi

– harga yang murah

 

– plastik ini bisa dibandingkan dengan baja dan aluminium dalam industri logam

– sering dipakai dalam bentuk barang pakai-buang (disposable) seperti lapisan pengemas

Tabel 1 Contoh dan kegunaan polimer komersial (Stevens, 2001)

Polimer komersial

Kegunaan atau manfaat

Polietilena massa jenis rendah(LDPE)

Lapisan pengemas, isolasi kawat, dan kabel, barang mainan, botol yang lentur, bahan pelapis

Polipropilena (PP)

Botol, drum, pipa, saluran, lembaran, film, isolasi kawat dan kabel

Poli(vinil klorida) (PVC)

Tali, anyaman, karpet, film, bahan bangunan, pipa tegar, bahan untuk lantaui, isolasi kawat dan kabel

Polistirena (PS)

Bahan pengemas (busa), perabotan  rumah, barang mainan

Sedangkan plastik teknik memiliki ciri: (Stevens, 2001)

– harga yang lebih mahal

– volume lebih rendah

– memiliki sifat mekanik yang unggul dan daya tahan yang lebih baik

– dalam berbagai aplikasi sering bersaing dengan logam, keramik, dan gelas

Contoh : Nylon, polikarbonat, polisulfon, poliester

Jika dilihat dari sifatnya, plastik dibagi menjadi termoplastik dan termoset. Termoplastik mempunyai sifat, jika dipanaskan akan menjadi plastis dan jika terus dipanaskan sampai suhu lebih dari 200º C bisa mencair. Bila temperatur kemudian diturunkan (didinginkan), material plastik akan mengeras dan dapat dibentuk kembali.

Termoset setelah diproses menjadi produk tidak dapat kembali seperti bentuk semula. Jika diumpamakan dengan makanan, termoplastik seperti coklat yang dapat mencair dan mengeras berulang kali dan tetap saja kita akan mendapatkan coklat, sedangkan termoset seperti biskuit yang sekali dicetak tidak dapat kembali ke bentuknya lagi (Anonim2, 2009)

Pada saat ini, kebanyakan plastik yang digunakan adalah plastik konvensional. Biasanya plastik konvensional ini berbahan dasar minyak bumi, gas alam, atau batu bara. Penggunaan plastik konvensional yang terbuat dari bahan sintetik  sering mengasilkan sampah dalam kehidupan sehari-hari. Sampah ini tidak dapat didegradasi oleh mikroorganisme atau lingkungan (Martaningtyas, 2002).

Plastik merupakan industri hilir yang menggantungkan bahan baku pada perusahaan lain. Berikut adalah bahan baku plastik berikut asalnya: (a division of Regal Supply Company, 1999-2000)

 

Gambar 1 Macam-macam bahan baku plastik (a division of Regal Supply Company, 1999-2000)

3.1.1.      Poli (vinil klorida) (PVC)

PVC merupakan bahan baku plastik jenis komoditi yang sering digunakan untuk memproduksi bahan bangunan, pipa tegar, bahan untuk lantui, isolasi kawat dan kabel. Jika dilihat dari sifatnya, plastik berbahan baku PVC merupakan termoplastik. PVC dapat dibuat dengan cara Polimerisasi adisiyaitu polimerisasi yang disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomernya yaitu etil klorida (VCM). (Anonim1, 2009)

Proses pembuatan PVC melalui reaksi Polimerisasi adisi dibutuhkan beberapa materi yaitu Etilena, Garam Indusri (merupakan garam terbaik untuk dilakukan elektrolisis karena kualitas kemurniannya tinggi), dan tenaga listrik.

 

Gambar 2 Proses Produksi PVC (Anonim5, 2008)

 

Dalam proses yang disebut elektrolisis, garam dilarutkan dalam air dan larutan dialiri dengan arus listrik sehingga pada proses ini diproduksi klorin, soda kaustik, dan hidrogen. Secara terpisah, minyak atau gas disuling dan Etilena dapat diproduksi melalui proses pemisahan kimia yang disebut dengan ‘cracking’. Lalu Etilena dan Klorin direaksikan dan ketika Etilena dan klorin bereaksi akan dihasilkan produk yaitu diklorida etilena (EDC); dimana selanjutnya akan dipecah dan dihasilkan monomer etil klorida (VCM), yaitu dasar dari penyusunan poli (vinil klorida) (PVC). Selanjutnnya PVC yang diproduksi dalam bentuk bubuk putih disebut dengan termoplastik (Anonim5, 2008).

Contoh :

 

Teknik produksi plastik yang tepat untuk bahan baku PVC adalah ekstrusi. Pertama bahan berupa PVC berbentuk butiran atau serbuk dimasukkan dalam corong, di dorong ke screw baja. Dilairkan ke sepanjang bejana (barrel), dan dipanaskan. Kedalaman lekukan screw makin berkurang untuk memadatkan bahannya. Pada ujung ekstruder, lelehan melalui die dalam keadaan panas, lunak, dan mudah dibentuk. Ekstrusi ini harus segera dijaga bentuk dan ukurannya yaitu dengan cara pendinginan menggunakan udara atau air. Dalam proses ekstrusi, ekstrudat yang dihasilkan tidak selalu tepat sama dengan dimensi/ukuran die, yaitu agak lebih kecil.

Untuk mengatasi hal ini maka dapat digunakan alat khusus yang mampu mengambil ekstrudat lunak dari die dengan cepat.Berikut adalah gambar mesin ekstrusi: (Hartono, 1993)

 

Gambar 3 Mesin ekstrusi (Anonim4, 2007)

 

3.1.2.      Poliester

Poliester merupakan bahan baku produksi plastik jenis termoset. Poliester memiliki berat molekul yang tinggi dan titik lebur yang tinggi. Poliester sering digabungkan dengan polimer lain untuk menambah kualitasnya, seperti pada poliester resin yang digabungkan dengan gelas fiber, dapat diperoleh polimer plastik yang kuat, kokoh, tahan terhadap suhu atau tidak mudah meleleh. Contoh pada perahu boat, alat-alat olahraga,dan  alat-alat listrik (Bhatnagar, 2004).

Salah satu jenis poliester adalah polifenil ester. Polimer ini di proses melalui metode polimerisasi kondensasi dengan reaksi sebagai berikut:

 

Dengan R’ merupakan aril radikal

Pembuatan polifenil ester di mulai dengan, bisfenol A dan NaCl direaksikan dalam air. Dan ditambahkan  larutan Sodium Laurat. Rekasi berlangsung lambat setelah penambahan 0,5 mol asam klorida dari asam dikarboksilat yang telah direaksikan dengan pelarut non reaktif. Selama 10 menit dijadikan emulsikan dan dituangkan ke dalam aseton untuk mengendapkan (membentuk koagulasi) polimer. Lalu di saring, dicuci dengan air dan dikeringkan (Bhatnagar, M.S, 2004)

Polifenil ester merupakan bahan baku plastik jenis termoset. Salah satu teknik produksi plastik yang tepat dengan bahan baku ini adalah dengan menggunakan teknik injeksi. Pertama, bahan baku untuk plastik injeksi berupa plastik raw material yang berupa butiran – butiran kecil plastik (Polifenil ester) di masukkan dalam hopper, setelah pressure, kecepatan dan parameter lainya di setting, plastik raw material (material kasar) akan di panaskan dalam barrel, selanjutnya screw berputar dan mengalirkan plastik yang mulai meleleh, saat plastik akan di injeksikan oleh nozzle, molding unit di tutup oleh clamping unit, setelah di tutup dan di tekan oleh clamping unit plastik di masukkan ke dalam mold unit melalui nozzle. Setelah plastik di masukkan ke dalam molding unit, screw berhenti berputar, lalu clamping unit menarik core mold, sehingga mold terbuka, di lanjutkan dengan melepas produk plastik yang telah dicetak dengan menekan ejektor pada molding unit (Hasnan, 2009)

 

 

 

Berikut adalah gambar mesin cetak injeksi:

 

Gambar 4 bagian detail plastic injection machine(Hasnan, 2009)

 

3.2.Plastik Modern

Platik konvensional sudah lama menimbulkan masalah bagi lingkungan. Plastik berbahan baku polimer sintetis minyak bumi tidak dapat didegradasi oleh alam, sehingga menjadi sumber pencemaran di berbagai tempat, terutama di tanah dan air. Namun, seiring perkembangan zaman, telah ditemukan solusi plastik ramah lingkungan atau disebut plastic biodegrdable. Plastic biodegradable merupakan plastik yang terbuat dari bahan-bahan alami antara lain selulosa, pati, kolagen, kasein, protein, khitosan, khitin, atau lipid dari hewan. Bahan-bahan alami ini termasuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sampah plastik yang dihasilkan dapat didegradasi oleh alam  dan mikroorganisme (Wawan, 2005).

Salah satu sumber bahan baku plastik biodegradable adalah klobot jagung. Klobot jagung memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 32%, dan sisanya hemiselulosa 32% dan lignin 20% (Hettenhaus, 2002). Sekitar 1 ton klobot jagung yang dihasilkan akan proporsional dengan hasil 1 ton biji jagung. Klobot jagung akan terus meningkat jumlahnya sering meningkatnya panen jagung tiap tahun.

Berikut adalah proses pembuatan polimer biodegradabel dari klobot jagung:

  1. Persiapan bahan baku polimer biodegradable

Pembuatan serbuk klobot jagung

Klobot jagung di cuci dengan air, dipotong kecil-kecil sekitar 2 cm dan dikeringkan dibawah terik matahari. Kemudian dilakukan penggilingan. Serbuk klobot jagung yang dihasilakan masih mengandung komponen lain terutama lignin. Lignin dipisahkan dengan menambahkan NaOH dalam konsentrasi pekat.

 

Gambar 5 Struktur Bangun Selulosa (Harnum, 2008)

Pengolahan selulosa dalam serbuk klobot jagung

Sebagai bahan plastik biodegradable, selulosa di ubah menjadi selulosa asetat dengan cara mereaksikan selulosa dengan asam asetat, kemudian dengan anhidrida asetat (CH3CO)2O dan katalis asam mineral. Selulosa asetat memilki derajat polimerisasi lebih rendah daripada umpan selulosa dikarenakan terjadinya pemutusan ikatan glukosidik oleh katalis esterifikasi asam (Stevens, 2001)

 

 

  1. Teknik pembuatan plastic dari selulosa

Dengan menggunakan teknik thermoforming, pertama polimer dimasukkan kedalam ekstruder yang dilengkapi dengan screw berputar dan sistem pemanasan untuk menjaga bahan tetap lunak. Selanjutnya dicetak menjadi film kemudian dibentuk menjadi produk plastik sesuai dengan cetakan.

Berikut adalah gambar proses thermoforming:

 

Gambar 6 Proses Thermoforming (Anonim3, 2009)

Selulosa dari klobot jagung cenderung kaku sebagai bahan baku plastik, ini disebabkan oleh derajat kristalinasi yang tinggi dari selulosa. Namun, proses asetilasi selulosa telah membuat kekakuan selulosa menurun, sehingga diperoleh plastik selulosa asetat yang elastis. Untuk menjaga kestabilan plastik selulosa maka perlu ditambahkan stabilizer atau disebut juga pemlastis atau plasticizer. contoh pemlastis yang bisa digunakan adalah kanji dan tandan kelapa sawit (TKS, serta asam laktat.)


 

BAB IV INDUSTRI PVC

 

Polivinil klorida, atau lebih dikenal dengan PVC atau vinyl, telah digunakan secara luas sejak awal pertengahan abad 20. PVC memiliki sifat kuat, tahan terhadap minyak dan bahan kimia, sinar matahari, cuaca, dan tahan api. PVC bisa ditemukan di mana saja di sekitar kita. PVC adalah bahan sangat serbaguna yang digunakan sebagai bahan pembuat botol, kemasan, mainan, bahan konstruksi, selimut, pakaian, pipa, pelapis kabel, kulit imitasi, perabotan, dan banyak lagi.

PVC menempati peringkat ketiga di kedua output plastik global dan konsumsi. Lebih dari 33 juta ton PVC  diproduksi setiap tahun, dan angka itu meningkat setiap tahun. Sekitar 57 persen massa PVC adalah klorin, sehingga membutuhkan minyak bumi lebih sedikit dari polimer lainnya.

Polyvinylchloride (PVC) [- (-CH 2-CHCl-) n-] adalah salah satu dari tiga penting polimer banyak digunakan saat ini di seluruh dunia. Hal ini karena PVC adalah salah satu polimer termurah untuk membuat dan memiliki berbagai macam sifat sehingga dapat digunakan untuk membuat ratusan produk.

 

4.1.Proses Produksi Plastik

Secara umum proses produksi plastik di industri meliputi tiga tahap yaitu: (Hartono, 1993)

  1. Pelunakan

Menggunakan panas, sehingga mudah mengalir, dan siap dibentuk oleh cetakan

 

  1. Pembentukan

Memanfaatkan tekanan, agar plastik dialirkan dan dibentuk lewat die atau cetakan

  1. Pemadatan

Bentuk akhir produk dibiarkan memadat

 

4.2.Proses Pembuatan PVC

Secara garis besar proses produksi PVC dilakukan melalui tiga tahapan reaksi. PVC yang dihasilkan dalam tahapan-tahapan produksi ini merupakan PVC murni. Tahap-tahap pembuatan PVC, antara lain:

1. Klor-Alkali

Proses yang pertama yaitu Proses Klor-Alkali, gas klorin (Cl2) merupakan produk utama yang dihasilkan pada tahapan ini, disamping produk-produk sampingan berupa natrium hidroksida (NaOH), gas hydrogen (H2) dan natrium hipoklorit (NaOCl)

Dalam Proses Klor-Alkali ini garam natrium klorida (NaCl) dilarutkan dalam air dan dimurnikan serta dikonsentrasikan. Larutan garam yang murni dan terkonsentrasi ini kemudian dielektrolisa menghasilkan NaOH, gas klorin dan gas hydrogen.

2NaCl + 2H2O → Cl2 + H2 + 2NaOH

Natrium hipoklorit dan asam klorida merupakan produk turunan yang didapat dengan mereaksikan natrium hidroksida dan gas klorin.

NaOH + Cl2 → NaOCl + HCl

 

2. EDC/VCM                                       

Proses yang kedua, yaitu Proses EDC/VCM yang menghasilkan monomer vinil klorida (vinyl chloride monomer atau disingkat dengan VCM) sebagai produk utama. Etilen diklorida (EDC) atau 1,2-dichloroethan di masa lalu populer dengan sebutan Dutch Oil demi menghormati ilmuwan-ilmuwan Belanda yang pertama kali berhasil mensintesa zat tersebut dari gas etilen dan gas klorin di akhir abad ke-18.

Dewasa ini EDC terutama digunakan untuk memproduksi monomer vinil klorida (VCM), yang merupakan bahan baku utama pembuatan polivinil klorida (PVC). EDC juga digunakan sebagai zat-antara (intermediate) dalam proses pembuatan berbagai zat-zat organic, disamping juga digunakan sebagai zat pelarut (solven).

Proses produksi vinil klorida yang dipraktekkan secara komersial saat ini merupakan kombinasi seimbang dari dua jenis proses untuk menghasilkan etilen diklorida (EDC) yang merupakan produk-antara (intermediate) dalam proses produksi vinil klorida. Kedua proses tersebut dinamakan Direct Chlorination (DC) dan Oxy-Chlorination (OC).

Dalam proses Direct Chlorination (DC), etilen (CH2=CH2) di-klorinasi untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl).

            CH2=CH2  +  Cl2  → CH2Cl-CH2Cl                                        (1)

Etilen diklorida kemudian di-“cracking” (dipanaskan tanpa paparan oksigen) untuk menghasilkan vinil klorida (CH2=CHCl) dan asam klorida (HCl).

            CH2Cl-CH2Cl  → CH2=CHCl  + HCl                                      (2)

Sementara itu dalam proses Oxy-Chlorination (OC), etilen (CH2=CH2), asam klorida (HCl) yang dihasilkan dari Reaksi (2) dan oksigen (O2) direaksikan untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl).

            CH2=CH2  +  Cl2 + ½ O2 → CH2Cl-CH2Cl + H2O                  (3)

Dengan menjumlahkan Reaksi (1), (2) dan (3), didapat reaksi keseluruhan dari kombinasi proses Direct Chlorination dan Oxy-Chlorination:

            2 CH2=CH2  +  Cl2 + ½ O2 → 2 CH2=CHCl + H2O                (4)

3. Polimerasasi

Dalam proses yang ketiga, yaitu proses polimerisasi PVC, vinil klorida (VCM) dipolimerisasi menjadi polivinil klorida (PVC) dalam reactor tank. Reaksi polimerisasi PVC adalah sebagai berikut:

 

Mekanisme polimerisasi yang dilakukan adalah dengan metode radikal bebas yang terdiri dari tiga tahap:

1. Inisiasi

2. Propagasi

3. Terminasi

 

 

 

PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama: minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat, termasuk etilena ( C2H4 ), sementara garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium hidroksida (NaOH) dan gas klor (Cl2). Etilena kemudian direaksikan dengan gas klor menghasilkan etilena diklorida (CH2Cl-CH2Cl). Proses cracking/pemecahan molekul etilena diklorida menghasilkan gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam klorida (HCl). Akhirnya, melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul yang disebut monomer, dalam hal ini vinil klorida) dihasilkan molekul raksasa dengan rantai panjang (polimer): polivinil klorida (PVC), yang berupa bubuk halus berwarna putih. Masih diperlukan satu langkah lagi untuk mengubah resin PVC menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat.

Penampakan resin PVC sangat mirip dengan tepung terigu. Dan resin PVC memang dapat dianalogikan seperti tepung terigu: keduanya tidak dapat digunakan dalam bentuk aslinya. Seperti halnya tepung terigu yang harus diolah dengan mencampurkan berbagai kandungan lain hingga menjadi kue tart dan berbagai jenis roti yang menarik, resin PVC juga harus diolah dengan mencampurkan berbagai jenis zat aditif hingga dapat menjadi berbagai jenis produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

a.  Produksi klorin

Garam (natrium klorida) yang diperoleh dari laut kering prasejarah dilarutkan dalam air untuk membentuk solusi yang disebut air garam. Solusi ini ditempatkan dalam sebuah sel dan sebuah arus listrik yang melewatinya.gelembung gas Klorin off di salah satu bagian dari sel dan logam natrium diproduksi di lain.

Natrium bereaksi dengan air untuk membentuk soda kaustik (sodium hidroksida) dan gas hidrogen. Kedua yang memiliki kegunaan komersial penting.

Generasi gas klorin melibatkan merkuri logam cair (senyawa-senyawa yang beracun) dan dapat menyebabkan efek buruk pada lingkungan. Salah satu contoh seperti itu di tahun 1950-an di Jepang di Teluk Minamata di mana melarikan diri dan terkontaminasi merkuri ikan dan memasuki rantai makanan yang menyebabkan kematian banyak penduduk lokal.

Oleh karena itu tanaman industri sangat berhati-hati dalam mencegah merkuri dari melarikan diri namun selalu ada beberapa merkuri yang hilang mengapa metode baru untuk membuat klorin sekarang digunakan. Metode baru ini melibatkan diafragma asbes di sel yang berpori dan memungkinkan arus listrik untuk mengalir serta menolak korosi dari klorin dan soda kaustik.Metode ini lebih aman karena tidak ada asbes hilang dan ketika diafragma diganti dapat dibuang secara aman dan mudah.

 

 

Namun, satu kejatuhan dari metode ini adalah bahwa ia membentuk lebih encer larutan soda kaustik sehingga memerlukan uap pemanasan untuk menghilangkan kelebihan air dan membuatnya lebih terkonsentrasi sebelum dapat dijual di untuk penggunaan komersial.

Pembuatan akun PVC 30% dari klorin yang dihasilkan industri. Kehadiran klorin membuat PVC kompatibel dengan berbagai bahan lain yang membuat PVC sangat fleksibel. Juga, klorin membuat flame retardant PVC dan memungkinkan PVC harus dibedakan ketika menyortir plastik untuk didaur ulang. Namun klorin itu sendiri sangat korosif dan adalah gas mematikan.

Hal ini berbahaya untuk menangani dan orang tewas dalam insiden industri yang melibatkan klorin. langkah-langkah keamanan yang ketat karena itu diambil di mana klorin yang bersangkutan termasuk dalam pengangkutan kimia ini.

 

b.  Produksi Ethylen

Ethylene berasal dari minyak atau gas alam yang halus dan ‘retak’ dengan memanaskan etana, propana atau butana atau naptha dari minyak. Misalnya proses pemecahan untuk metana dapat hadir sebagai berikut:

2CH4 à C2H2 + 3H2

Hasil  dari proses ini termasuk hidrogen dapat dibakar untuk menyediakan energi dan propylene yang direklamasi seperti yang berharga. Merupakan hasil reaksi yang mudah terbakar tetapi tidak beracun atau menyebabkan kanker.

  1. Produksi PVC

Ethylene dan klorin yang dikombinasikan untuk membentuk dichloride, ethylene cair (i) yang kemudian dipanaskan untuk memberikan vinil klorida yang kemudian disuling off dan memberikan gas hidrogen klorida;

H2C = CH2 + ClH2C-CH2Cl à H2C = CHCl + HCl

Reaksi samping juga terjadi untuk membentuk senyawa organoklorin beberapa yang dikumpulkan karena mereka memiliki penggunaan komersial. Sisanya oleh-produk yang dibakar untuk merebut kembali klorida hidrogen, yang dapat didaur ulang dan bereaksi dengan ethylene dichloride lebih untuk membentuk etilen baru.

Vinyl chloride gas kurang berbahaya daripada klorin Namun kanker hati angiosarcoma disebut telah dikaitkan dengan orang-orang yang bekerja dengan vinil klorida.

Pekerja yang terpapar itu sekarang dilindungi dan kebocoran dan kerugian gas vinil klorida dalam tanaman menurun ke minimum mutlak dan jejak sisa dalam produk PVC dikeluarkan sejauh mungkin. Perbaikan ini memastikan bahwa masyarakat umum tanpa resiko sama sekali dari kimia ini.

Tekanan diterapkan pada vinil klorida (terdispersi dalam air sebagai suspensi atau emulsi) di ruang tekanan tinggi pada suhu 50-70 ° C. Peran air adalah untuk menghapus dan mengontrol panas yang dilepaskan dalam proses polimerisasi. PVC bentuk partikel kecil yang tumbuh dan ketika mereka mencapai ukuran yang diinginkan reaksi dihentikan dan setiap vinil klorida tidak bereaksi disuling off dan digunakan kembali. PVC dipisahkan off dan dikeringkan untuk membentuk serbuk putih.

  1. Pemrosesan Menjadi Produk Akhir

Satu tahap penting lagi sebelum resin PVC bisa ditransformasikan menjadi berbagai produk akhir adalah pembuatan  compound/adonan (compounding). Compound adalah resin PVC yang telah dicampur dengan berbagai aditif yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, sehingga siap untuk diproses menjadi produk jadi dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sifat-sifat yang dituju meliputi warna, kefleksibelan bahan, ketahanan terhadap sinar ultra violet (bahan polimer/plastik cenderung rusak jika terpapar oleh sinar ultra violet yang terdapat pada cahaya matahari), kekuatan mekanik transparansi, dan lain-lain. PVC dapat direkayasa hingga bersifat keras untuk aplikasi-aplikasi seperti pipa dan botol plastik, lentur dan tahan gesek seperti pada produk sol sepatu, hingga bersifat fleksibel/lentur dan relatif tipis seperti aplikasi untuk wall paper dan kulit imitasi.

       PVC dapat juga direkayasa sehingga tahan panas dan tahan cuaca untuk penggunaan di alam terbuka. Dengan segala keluwesannya, PVC cocok untuk jenis produk yang nyaris tak terbatas dan setiap compound PVC dibuat untuk memenuhi kriteria suatu produk akhir tertentu.

Compound PVC kemudian dapat diproses dengan berbagai cara untuk memenuhi ratusan jenis penggunaan yang berbeda, misalnya:

•      PVC dapat diekstrusi, artinya dipanaskan dan dialirkan melalui suatu cetakan berbagai bentuk, sehingga dihasilkan produk memanjang yang profilnya mengikuti bentuk cerakan tersebut, misalnya produk pipa, kabel dan lain-lain.

•      PVC juga dapat di lelehkan dan disuntikkan (cetak-injeksi) ke dalam suatu ruang cetakan tiga dimensi untuk menghasilkan produk seperti botol, dash board, housing bagi produk-produk elektronik seperti TV, computer, monitor dll.

•      Proses kalendering menghasilkan produk berupa film dan lembaran dengan berbagai tingkat ketebalan, biasanya dipakai untuk produk alas lantai, wall paper , dll.

•      Dalam teknik cetak-tiup (blow molding), lelehan PVC ditiup di dalam suatu cetakan sehingga membentuk produk botol, misalnya.

•      Resin PVC yang terdispersi dalam larutan juga dapat digunakan sebagai bahan pelapis/coating, misalnya untuk lapisan bawah karpet dll.

 

4.3.Sifat  dan penggunaan PVC

Sifat PVC yang menarik membuatnya cocok untuk berbagai macam penggunaan. PVC tahan secara biologi dan kimia, membuatnya menjadi plastik yang dipilih sebagai bahan pembuat pipa pembuangan dalam rumah tangga dan pipa lainnya di mana korosi menjadi pembatas pipa logam. Dengan tambahan berbagai bahan anti tekanan dan stabilizer, PVC menjadi bahan yang populer sebaga bingkai jendela dan pintu. Dengan penambahan plasticizer, PVC menjadi cukup elastis untuk digunakan sebagai insulator kabel.

 

 

 

  1. Pakaian

PVC telah digunakan secara luas pada bahan pakaian, yaitu membuat bahan serupa kulit. PVC lebih murah dari karet, kulit, atau lateks sehingga digunakan secara luas. PVC juga waterproof sehingga dijadikan bahan pembuatan jaket, mantel, dan tas.

  1. Kabel listrik

PVC yang digunakan sebagai insulasi kabel listrik harus memakai plasticizer agar lebih elastis. Namun jika terpapar api, kabel yang tertutup PVC akan menghasilkan asap HCl dan menjadi bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Aplikasi di mana asap adalah bahaya utama (terutama di terowongan), PVC LSOH (low smoke, zero halogen) adalah bahan insulasi yang pada umumnya dipilih.

  1. Perpipaan

Secara kasar, setengah produksi resin PVC dunia dijadikan pipa untuk berbagai keperluan perkotaan dan industri. Sifatnya yang ringan, kekuatan tinggi, dan reaktivitas rendah, menjadikannya cocok untuk berbagai keperluan. Pipa PVC juga bisa dicampur dengan berbagai larutan semen atau disatukan dengan pipa HDPE oleh panas,menciptakan sambungan permanen yang tahan kebocoran.

 

  1. Bangunan dan bahan konstruksi

PVC tahan korosi dan pelapukan dan sebagainya telah menggunakan banyak outdoor seperti puntung air, bingkai jendela, flaps lumpur, pipa air dan furnitur taman. PVC juga tangguh dan tidak retak dan mudah dapat dibentuk sehingga dapat diproduksi sebagai serat, busa atau film. Sebagai bahan bangunan, PVC relatif murah, tahan lama, dan mudah dirangkai.

  1. Komponen kendaraan

Penggunaan PVC dalam komponen kendaraan mengurangi berat kendaraan maka mengurangi konsumsi bahan bakar dan melestarikan bahan bakar fosil. PVC juga meningkatkan kebebasan desain dan meningkatkan keselamatan kendaraan dengan memberikan kejutan-menyerap bagian seperti airbag dan juga sifat tahan api.

  1. Mainan

PVC tidak beracun, tangguh dan tahan lama dan produk dapat dibuat dalam berbagai warna memberikan bahan yang sempurna untuk membuat mainan dengan PVC.

 

BAB V PERAMALAN

 

5.1.Konsumsi PVC di Jerman

Tabel 2 Data Konsumsi PVC di Jerman 1976-1989

 

X

 

Y

y hitung

 

periode

Tahun

konsumsi

linear

poli 2

poli 3

eksponensial

1

1976

845690

       

2

1977

826444

       

3

1978

851221

       

4

1979

934579

       

5

1980

843805

       

6

1981

799666

       

7

1982

721957

       

8

1983

862777

       

9

1984

831999

       

10

1985

871047

       

11

1986

894620

827014,6

856991,9

985385,4

822306,1841

12

1987

907485

824850,2

871181,6

1139635,2

819842,9622

13

1988

1033705

822685,8

888097,1

1354969,8

817387,1189

14

1989

1013277

820521,4

907738,4

1640367,6

814938,6322

Sum

 

12238272

3295072

3524009

5120358

3274474,897

 

Grafik peramalan dengan linear

 

Grafik peramalan dengan Polinomial 2

 

Grafik Peramalan dengan polinomial 3

 

Grafik Peramalan dengan eksponensial

(ydata-yhitung)^2

 

linear

poli 2

poli 3

eksponensial

4570490109

1,42E+09

8,24E+09

5229287970

6828510171

1,32E+09

5,39E+10

7681126785

44529102769

2,12E+10

1,03E+11

4,6793E+10

37154721331

1,11E+10

3,93E+11

3,9338E+10

93082824380

3,51E+10

5,59E+11

MSE

 

9,9042E+10

23270706095

8,77E+09

1,4E+11

2,476E+10

 

grafik

R^2

MSE

Pemilihan

1-R^2

MSE / MSE

(1-R^2)+(MSE/MSE)

linear

0,0146

23270706095,05

0,9854

0,4738

1,4592

poli 2

0,0518

8768466848,39

0,9482

0,1785

1,1267

poli 3

0,3138

139646441381,15

0,6862

2,8435

3,5297

eksponensial

0,0155

24760487143,45

0,9845

0,5042

1,4887

average

49111525367,01

 

 

Peramalan

     

 

Periode

Tahun

konsumsi PVC

Sd

Sd sesungguhnya

Nilai Sesungguhnya

45

2020

2868615,50

8768466848,39

-47341266,95

50209882,45

55

2030

4059945,50

51401212,45

 

 

 

 

5.2.Konsumsi Resin PVC di Indonesia

Tabel 3 Data Konsumsi Resin PVC di Indonesia 2000-2004

 

 

x

y

y hitung

tahun

periode

Konsumsi

linear

poli 2

eksponensial

2000

1

160182

 

 

 

2001

2

180711

 

 

 

2002

3

208787

 

 

 

2003

4

276420

231834

244410

271060,2

2004

5

312132

256137

287580

139748

sum

 

1138232

487971

531990

410808,2

 

 

Grafik Peramalan dengan metode linear

 

Grafik Peramalan dengan metode Polinomial 2

 

 

Grafik Peramalan dengan metode eksponensial

 

ydata-yhitung^2

linear

poli 2

eksponensial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1987911396

1,02E+09

28727851

3135440025

6,03E+08

2,972E+10

5123351421

1,63E+09

MSE

 

2,974E+10

1280837855

4,07E+08

7,436E+09

 

 

grafik

R^2

MSE

Pemilihan

1-R^2

MSE / MSE

(1-R^2)+(MSE/MSE)

linear

0,9920

1280837855,25

0,0080

0,4211

0,4291

poli 2

1,0000

406860201,00

0,0000

0,1338

0,1338

eksponensial

0,9373

7436242826,63

0,0627

2,4451

2,5078

average

3041313627,63

 

 

Peramalan

     

 

Periode

Tahun

konsumsi PVC

Sd

Sd sesungguhnya

Nilai Sesungguhnya

45

2020

8202920,00

406860201,00

26135541,00

34338461,00

55

2030

12068505,00

38204046,00

 



BAB  PENUTUP

 

Halogenasi adalah pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, baik secara penambahan (adisi) maupun secara penggantian (substitusi).

Pengertian pelarut terhalogenasi, menurut Dr.Dmitri Kopeliovich adalah pelarut yang molekulnya mengandung atom halogenic: klorin (Cl), fluor (F), brom (Br) atau yodium (I).

Jenis-jenis pelarut terhalogenasi

  1. Diklorinasi pelarut
  2. Fluorocarbon pelarut
  3. Brominated Pelarut
  4. Iodinasi pelarut

 

Reaksi-reaksi antara alkena dengan unsur-unsur halogen

  1. Etena dengan fluorin
  2. Etena dengan klorin atau bromin atau iodin

 

Reaksi-reaksi antara alkana dengan unsur-unsur halogen

  1. Alkana dengan fluorin
  2. Alkana dengan iodin
  3. Alkana dengan klorin atau bromin
  • Metana dengan klorin
  • Propana dengan klorin

 

Reaksi-reaksi antara sikloalkana dengan unsur-unsur halogen

  1. Siklopropana dengan bromin

Pabrik kimia yang menggunakan proses halogenasi

  1. Pabrik Hexachlorobenzena
  2. Pabrik Vinyl Chloride
  3. Pabrik Tetrachloroethane
  4. Pabrik Allyl Chloride

Misal dalam pabrik vinyl chlorida yaitu terdapat reaksi halogenasi dalam pembuatan vinyl chlorida sebagai bahan baku dalam industri PVC dimana dibuat dengan mereaksikan EDC dengan gas Cl2

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1, 2009, Plastics, http://ifeedlotsofcats.blog.friendster.com/2008/09/plasticsss di akses pada tanggal 27 Maret 2009

Anonim2, 2009, Konsep Dasar Ilmu Polimer,  http://kimia.uny.ac.id/siokim/resources/coba.doc, diakses pada tanggal 27 Maret 2009

Anonim3, 2009, Thermoforming, http://www.oshore.com/products/archived/images/thermoformed4.gif, diakses pada tanggal 31 Maret 2009

Anonim4, 2007, Drinking Straw,

http://www.madehow.com/images/hpm_0000_0004_0_img0070.jpg, diakses pada tanggal 31 Maret 2009

Anonim5, 2008, O2 Monitoring of VCM in PVC Production,

http://www.gesensing.com/panametricsproducts, diakses pada tanggal 31 Maret 2009

A division of Regal Supply Company, 1999-2000, Regal Plastic: Plastics Reference Handbook, http://www.stealth316.com/misc/engineered-plastics.pdf di akses pada tanggal 27 Maret 2009

Bhatnagar, M.S, 2004, A Text Book of  Polimers (Chemistry and Technology of Polimers)(Condensation Polimers),New Delhi:S.Chand and Company LTD

Harnum, Belina, 2008, Kegunaan Hidrokrabon Dalam Kehidupan Sehari-hari, http://persembahanku.files.wordpress.com/2007/05/molekul-selulosa.jpg, diakses pada tanggal 31 Maret 2009

Hartomo, Anton.j, 1993, Politeknik Pemrosesan Polimer Praktis, Yogyakarta: Andi Offset

Hettenhaus J, 2002, Talking about Corn Stover with Jim Hettenhaus ISSUE NO. 2 & 4

Martaningtyas, D, 2009, Potensi Platik “ Biodegradable”, http://www.pikiranrakyat.com/cetak ?0904/cakrawala/lainnya06.htm diakses tanggal 27 Maret 2009

Stevens, Malcolm P, 2001. Polymer Chemistry : An Introduction, diindonesiakan oleh Lis Sopyan, cetakan pertama, PT Pradnya Paramita : Jakarta

Wawan, M, 2005, Pengaruh Jenis Plasticizer terhadap Sifat Mekanik Plastik

Biodegradabel berbahan Baku protein jagung (Zein), skripsi, FISIKA, F-MIPA, UNIBRAW, MALANG.

http://id.wikipedia.org/wiki/Halogenasi diakses 29 April 2013

http://translate.googleusercontent.com// diakses 29 April 2013

http://salsabila-ravina.blogspot.com/2013/01/reaksi-halogenasi.html/ diakses 29 April 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s