Makalah Formaldehid

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang Masalah

Formaldehid sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Karena formaldehid sudah sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri, sebenarnya formaldehid sangat banyak manfaatnya, seperti anti bakteri atau pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formaldehid juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan, formaldehid digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Terkadang formaldehid juga disalah gunakan sebagai pengawet bahan makanan yang akan sangat berbahaya bagi tubuh manusia.

Selain itu, formaldehid diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga tidak jarang ikan yang diobati mati akibat formaldehid dibandingkan dengan penyakitnya. Formaldehid banyak digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formaldehid digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran.

Mengingat akan besarnya manfaat formaldehid dalam kehidupan sehari – hari, tidak heran jika kebutuhan formaldehid setiap tahun mengalami kenaikan. Walaupun industri formaldehid di indoseia cukup banyak yaitu sekitar 20 perusahaan pemroduksi formaldehid. Salah satu contoh industri atau perusahaan yang bergerak dalam pembuatan formaldehid adalah PT. PAI Probolinggo. Industri tersebut memproduksi formaldehid tidak dalam jumlah sedikit melainkan dalam kapasitas ribuan ton. Namun indonesia masih mengimpor formaldehid guna mencukupi kebutuhan tersebut. Sehingga hal tersebut mengindikasikan bahwa selama ini industri formaldehid di indonesia  belum bisa memenuhi kebutuhan formaldehid bagi para konsumen formaldehid. Oleh karena itu, dilakukan proses peramalan guna mengetahui kebutuhan formaldehid di tahun yang akan datang menggunakan data kebutuhan formaldehid tiap tahun. Hal ini bertujuan untuk mengurangi impor formaldehid dengan cara meningkatkan produksi formaldehid berdasarkan peramalan tersebut.

 

 

 

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Apa pengertian rekasi redoks ?
  2. Apakah formaldehid itu ?
  3. Bagaimana proses pembuatan formaldehid ?
  4. Bagaimana peramalan kebutuhan industri di tahun 2016 ?

 

C.  Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah proses kimia
  2. Untuk mengetahui reaksi oksidasi
  3. Untuk mengetahui proses pembuatan formaldehid
  4. Untuk mengetahui jumlah industri dan produksi formaldehid di industri tersebut
  5. Untuk mengetahui kebutuhan formaldehid di tahun 2016 melalui peramalan

 

 

 

 

 

 

D.    Manfaat

Manfaat pembuatan makalah ini diantaranya :

1.      Manfaat Teoretis

Secara teoretis penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan kita tentang senyawa karbon dalam kehidupan sehari-hari, terutama tentang formaldehid.

2.      Manfaat Praktis

Secara praktis, penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kebahasaan bagi peneliti dan pembaca.

a.       Peneliti

Bagi penulis, penelitian ini memberikan masukan serta menjadi acuan untuk pembuatan makalah berikutnya.

b.      Pembaca

Bagi pembaca, penelitian ini memberikan penjelasan tentang proses pembuatan formaldehid pada makanan.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

 

  1. A.                PENGERTIAN REAKSI REDOKS

Pengertian oksidasi dan reduksi disini lebih melihat dari segi transfer oksigen, hidrogen dan elektron. Disini akan juga dijelaskan mengenai zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor).

Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen. Dalam hal transfer oksigen, oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang reduksi adalah kehilangan oksigen. Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

 

 

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksi redoks.

Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III) oksida merupakan oksidator. Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon monooksida. Jadi dapat disimpulkan:

  • oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain,
  • reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain

Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan. Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen. Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen. Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:

 

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer. Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

     

 

  • Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada zat lain, atau memindahkan hidrogen dari zat lain.
  • Zat pereduksi (reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi hidrogen kepada zat lain.

Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron. Contoh sederhana reaksi redoks dalam hal transfer elektron:

 

Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).

 

Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi ion tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II). Dapat dikatakan bahwa magnesium adalah zat pereduksi (reduktor). Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator). Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer elektron.

 

 

Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam transfer elektron:

  • Zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.
  • Oksidasi berarti kehilangan elektron.
  • Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat lain.
  • Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron

Atau dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Suatu zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.
  • Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi.
  • Reduksi berarti mendapat elektron (OIL RIG).
  • Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron.

 

  1. B.                 Pengertian formaldehid

Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formaldehid, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867.

Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.

Formaldehid merupakan salah satu pengawet yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Formaldehid merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air, biasanya ditambahkan metanol 10-15%.

Formaldehid mempunyai banyak nama atau sinonim, seperti formol, morbicid, methanal, formic aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl aldehyde, oxomethane, formoform, formalith, oxomethane, karsan, methylene glycol, paraforin, poly-oxymethylene glycols, superlysoform, tetraoxymethylene dan trioxane.

Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formaldehid akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formaldehid maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal. Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformaldehid lainnya menjadi lebih awet.

Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formaldehid tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya.

Melihat sifatnya, formaldehid juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh  manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formaldehid yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.

Masalahnya, sebagai bahan yang digunakan hanya untuk mengawetkan makanan, dosis formaldehid yang digunakan pun akan rendah. Sehingga efek samping dari mengkonsumsi makanan berformaldehid tidak akan dirasakan langsung oleh konsumen.

Banyak pihak mengingatkan formaldehid juga memiliki sifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker.Tetapi kemunculan kanker akibat bahan berbahaya ini dengan kanker dari penyebab yang lain hampir sulit dibedakan, keduanya membutuhkan waktu panjang untuk menyerang tubuh manusia.

Isu kandungan formaldehid dalam berbagai produk makanan mendapat tanggapan serius dari pemerintah, karena dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya kanker. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sampai kadar tertentu, formaldehid diizinkan untuk pengawet kosmetik, yaitu untuk pasta gigi maksimum 0,1% dan untuk produk kosmetik lainnya 0,2%. Ketentuan ini sesuai dengan aturan yang berlaku secara internasional seperti ASEAN Cosmetic Directive, European Union Directive, dan SK BPOM untuk kosmetik.

 

  1. C.                JENIS JENIS PROSES PEMBUATAN FORMALDEHID

Proses pembuatan formalin dari metanol dan udara dapat dilakukan dengan tiga proses yaitu proses hidrokarbon, proses silver catalyst, dan proses metal oxide catalyst. Ketiga proses ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

  1. 1.      Proses Hidrokarbon

Proses hidrokarbon ini adalah proses yang dikembangkan pada awal perkembangan industri formaldehid. Proses ini merupakan proses oksidasi langsung dari hidrokarbon yang lebih tinggi. Biasanya bahan baku yang digunakan adalah etilen dengan katalis asam borat atau asam phospat atau garamnya dari campuran clay atau tanah diatoma. Proses ini mempunyai kelemahan, yang merupakan alasan mengapa proses ini tidak dikembangkan lagi, yaitu dihasilkan beberapa hasil samping yang terbentuk bersama-sama formaldehid, antara lain asetaldehid, propane, dan asam-asam organik. Sehingga tentu saja diperlukan pemurnian untuk mendapatkan formaldehid dengan kemurnian tertentu. Dengan demikian proses menjadi mahal dan hasilnya kurang memuaskan (Mc Ketta, 1992).

  1. 2.      Proses Silver Catalyst 

Proses ini menggunakan katalis perak dengan reaktor fixed bed multitube. Katalis ini berbentuk kristal-kristal perak atau spherical yang ditumpuk pada tube. Katalis ini mempunyai umur sekitar 8–12 bulan dan mudah teracuni oleh sulfur dan beberapa logam dari golongan transisi. Reaksi yang terjadi adalah:

  1. Oksidasi

 

  1. Dehidrogenasi

 

Katalis perak dalam reaksi ini berfungsi untuk mengarahkan reaksi pada formaldehid. Proses oksidasi metanol dengan katalis perak banyak digunakan dalam pabrik secara komersial karena katalis perak (Ag) memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

  1. Katalis dapat diregenerasi.
  2. Proses berlangsung pada tekanan rendah.
  3. Produk yang dihasilkan stabil karena kandungan metanol cukup.
  4. Mampu menghasilkan produk formalin 37–55 %.

 

Gambar 2.1. Diagram PFD proses pembuatan formaldehid dengan katalis perak

 

  1. 3.      Proses Metal Oxide Catalyst

Proses ini mula-mula menggunakan katalis Vanadium Penta Oksida yang diikuti dengan katalis Oksida besi dan oksida molibdenum yang direaksikan dengan oksigen. Jenis katalis metal oxide mempunyai umur efektif 12–18 bulan. Proses pembuatan formaldehid menggunakan metanol dan udara dengan katalis oksidasi besi-molibdenum. Proses ini beroperasi pada suhu 250–400 0C, dan tekanan 1–1,5 atm. Metanol direaksikan dengan udara dengan bantuan katalis oksidasi besi-molibdenum dalam sebuah reaktor fixed bed multitube. Konversi yang diperoleh mencapai 95% dengan yield formaldehid 94,4% (Mc Ketta,1992).

 

 

 

Dasar reaksi:

Reaksi utama

 

Reaksi samping

 

Kelebihan dari penggunaan katalis logam adalah:

  1. Katalis tidak mudah teracuni.
  2. Proses berlangsung pada tekanan rendah.
  3. Yield lebih besar dari 90 %.
  4. Hasil samping yang diperoleh sedikit.
  5. Selektivitas 98%

Kekurangan dari katalis logam adalah

  1. Formalin yang dihasilkan kurang stabil karena kandungan metanol pada gas hasil sedikit.
  2. Membutuhkan lebih banyak scrubber dan kondensor karena banyaknya   udara yang dipergunakan.

 

 

 

 

 

  1. D.                PEMBUATAN FORMALDEHID

             a.              Persiapan bahan baku pembuatan formaldehid

Metanol cair dengan temperatur ± 30°C dipompa dari metanol tank dan dipanaskan di preheater (MP) sampai temperatur 65°C lalu dimasukkan dalam vaporizer (VP). Di dalam vaporizer terjadi perubahan fase dari cair menjadi gas dengan suhu dalam vaporizer 65–75°C. Metanol gas dari vaporizer dipanaskan lagi dengan super heater (SH) di bagian atas vaporizer sampai suhu 95°C dan langsung dimasukkan ke mix gas (MG).

Udara dihisap melalui air filter (penyaring udara) dengan blower. Setelah dipanaskan dengan pemanas udara sampai suhu ±110°C lalu dimasukkan ke dalam mix gas (MG). Steam masuk melalui steam filter pada suhu 140 oC ke mix gas (MG).

             b.              Proses Reaksi

Udara, steam dan metanol gas bercampur rata di mix gas pada suhu 140 oC lalu masuk ke reaktor (RE) dengan melewati mix gas filter (MGF) untuk menjaga agar tidak ada tetes-tetes cairan (kondensat) masuk ke reaktor.

Pada saat start operation, temperatur katalis dinaikkan oleh heater sebagai pemanas awal sampai suhu 400–450°C, setelah itu heater dimatikan sehingga suhu katalis naik dengan sendirinya sampai suhu operasi yang diinginkan karena adanya reaksi eksoterm. Di dalam reaktor terjadi reaksi pembuatan gas formaldehid dengan bantuan katalis perak pada suhu operasi 650–700°C. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:

  1. Reaksi oksidasi metanol

CH3OH + ½ O2 →  CH2O + H2O           -37 kcal/mol

  1. Dehidrogenasi metanol

CH3OH   →   CH2O + H2                    +21 kcal/mol

 

Gas formaldehide yang terbentuk kemudian di-spray dengan larutan crude formaldehid 44% dengan temperature 80oC untuk menurunkan suhu gas formaldehid  sampai dibawah 250oC. Spray crude formaldehid ini juga dapat menyebabkan terjadinya reaksi samping yaitu terbentuknya paraform dan asam format (formic acid). Reaksi samping yang terjadi di dalam reaktor yaitu:

  1. Reaksi pembentukan paraform (methylen glycol)

CH2O + H2O      →  HOCH2OH (methylen glycol)

atau polymer dapat ditulis :

n CH2O + H2O →  HO(CH2O)n H

  1. Reaksi pembentukan asam format (formic acid)

2 CH2O + H2O   →   HCOOH   +   CH3OH

(asam format)                      (methanol)

 

 

 

              c.              Proses Absorbsi

Gas formaldehide dari reaktor (RE) dialirkan ke bagian bawah packed tower . Gas ini dikontakkan dengan larutan formaldehid 44% suhu 40 oC yang dialirkan dari atas menara dengan bantuan distributor cairan agar larutan formaldehid yang digunakan tersebar secara merata didalam packed tower dan membasahi seluruh permukaan raschig ring sehingga penyerapan maksimal.

Hasil penyerapan di packed tower berupa formaldehid cair masuk ke control tank (CT). Sisa gas yang belum terserap di packed tower masuk ke dalam bubble cap tower  yang akan diserap oleh pure water dari atas menara. Sisa dari penyerapan itu yang masih lolos nantinya dibakar di flare stack yang sebelumnya melewati demister. Hasil penyerapan dari bubble cap tower masuk ke control tank (CT).

             d.              Proses pendinginan

Larutan crude formaldehid pada control tank (CT) temperaturnya ± 80°C, karena temperaturnya masih relatif tinggi maka didinginkan lagi dengan dilewatkan cooler (CO). Cooler yang digunakan yaitu frame and plate dengan temperatur keluar 40°C. Selain itu agar formaldehid yang terbentuk sempurna, setelah melewati cooler larutan tersebut masuk ke crude formaldehid filter (CF) baru masuk ke crude formaldehid tank . Kadar formaldehid di crude formaldehid tank (T-03) sekitar 43-44%.

 

       e.                     Proses pengenceran

Untuk memperoleh formaldehid dengan kondisi standar yang digunakan oleh PT. PAI yaitu formaldehid dengan kadar 37,3% maka formaldehid dari crude formaldehid tank  diencerkan dengan menggunakan pure water di mixing tank . Setelah terbentuk larutan formaldehid 37,3% disimpan dalam tangki penyimpanan.

 

 

 

BAB III

PERAMALAN 2016

 

 

 

Menentukan peramalan kebutuhan formalin di tahun 2016

  • Menentukan jumlah data

Tahun

Kebutuhan (ton/tahun)

2001

3132,09

2002

3446,745

2003

4175,261

2004

5001,957

2005

9089,312

2006

10068,26

2007

11076,823

2008

12564,817

2009

14063,506

 

Jumlah data                             : 9

Data pembuatan grafik           : 70% dari jumlah data

                                                : 70% x 9

                                                : 6,3 ≈ 6 ( pembulatan)

Data untuk validasi                 : 30% dari jumlah data

                                                : 30% x 9

                                                : 2,7 ≈ 3 ( pembulatan )

 

 

 

 

 

Sehingga :

data untuk pembuatan garafik:

Tahun

Kebutuhan (ton/tahun)

2001

3132,09

2002

3446,745

2003

4175,261

2004

5001,957

2005

9089,312

2006

10068,26

 

Data untuk validasi :

Tahun

Kebutuhan (ton/tahun)

2007

11076,823

2008

12564,817

2009

14063,506

 

  • Membuat grafik

Grafik ini dibuat berdasarkan data pembuatan grafik, dimana grafik tersebut berupa hubungan antara periode dengan kebutuhan formalin tiap tahun. Maka dari itu, dibuat grafik dengan 4 macam, yakni linear, power, exponential dan polinomial

 

Tahun

Periode

Kebutuhan (ton/tahun)

2001

1

3132,09

2002

2

3446,745

2003

3

4175,261

2004

4

5001,957

2005

5

9089,312

2006

6

10068,26

2007

7

11076,823

2008

8

12564,817

2009

9

14063,506

  1. Linear

 

 

 

 

 

  1. Power

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Exponensial

 

 

 

  1. Polinomial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Menentukan MSE
  1. Menentukan nilai yang terukur pada setiap grafik

Misalnya kurva Linear

Untuk  X = 7                     

y  = 1498,1x + 575,41

    = (1498,1 x 7) + 575,41

    = 11062,11

Dengan cara yang sama untuk data dan persamaan kurva yang berbeda, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Jenis Grafik

X = 7

X = 8

X = 9

Linear

11062,11

12560,21

14058,31

Power

9198,009

10049,588

10865,945

exponensial

12789,865

16506,48

212303,11

polinomial

13855,32

17747,32

22237,78

 

  1. Menentukan nilai ( Y – Yi )2

Dimana :

Y  = Nilai data

Yi = Nilai yang didapat pada hasil substitusi ke persamaan masing – masing kurva

Sehingga berdasarkan persamaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

 

 

 

Jenis grafik

 ( Y – Yi )^2

1

2

3

Linear

216,472

21,224

26,998

Power

3529943,2

6326374,98

10224394,85

Exponensial

2934512,648

15536710,3

52411860,94

Polinomial

7720045,579

26858337,4

101397138,4

 

  1. Menentukan Nilai MSE

MSE =( ∑ ( Y – Yi )2)/N

Dimana :

N = Jumlah data

       Pada kondisi ini jumlah datanya adalah 3

Berdasarkan persamaan tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :

Jenis Grafik

MSE

Linear

88,232

Power

6693571,048

Exponensial

23627694,63

Polinomial

33799046,12

 

  • Menentukan kurva yang dipakai

Jenis grafik

Menentukan grafik yang akan dipakai

R2

1 – R2

MSE

MSE/MSE mean

Total

Linear

0,8735

0,1265

88,23174467

5,50413E-06

0,126505504

Power

0,7888

0,2112

6693571,048

0,417562651

0,628762651

Exponensial

0,9304

0,0696

23627694,63

1,47395803

1,54355803

Polinomial

0,9478

0,0522

33799046,12

2,108473815

2,160673815

 

Berdasarkan hasil tersebut, jenis grafik yang dipakai adalah grafik linear. Hal ini disebabkan nilai totalnya lebih kecil dibandingkan dengan grafik lainnya.

 

 

  • Menetukan standard deviasi real
  1. Menentukan nilai Random

Penentuan random ini bertujuan untuk memperkecil kesalahan dalam peramalan. Pengambilan nilai random ini dilakukan sebanyak 100 kali. Untuk menentukan random ini dilakukan pada Ms. Excel dengan rumus = Rand()

Berdasarkan rumus tersebut didapat :

 

 

Nomor

Random

1

0,577016

2

0,214757

3

0,357122

4

0,559442

5

0,300311

6

0,202957

7

0,978146

8

0,673815

9

0,332277

10

0,277702

11

0,68886

12

0,974266

13

0,603483

14

0,022835

15

0,955871

16

0,702588

17

0,3929

18

0,503559

19

0,489926

20

0,220738

21

0,631533

22

0,322365

23

0,075581

24

0,824893

25

0,270072

26

0,182564

27

0,460101

28

0,34964

29

0,980216

30

0,280483

31

0,590201

32

0,867726

33

0,964448

34

0,214163

35

0,953759

36

0,230524

37

0,882114

38

0,080435

39

0,042166

40

0,356225

41

0,462543

42

0,167197

43

0,680429

44

0,830524

45

0,155096

46

0,72501

47

0,264096

48

0,836831

49

0,634834

50

0,73208

51

0,010736

52

0,696425

53

0,363923

54

0,835414

55

0,980723

56

0,927409

57

0,756776

58

0,381755

59

0,482329

60

0,187541

61

0,9612

62

0,822222

63

0,440914

64

0,613231

65

0,436835

66

0,988484

67

0,261889

68

0,483151

69

0,999967

70

0,546117

71

0,165668

72

0,462149

73

0,371528

74

0,403547

75

0,011613

76

0,89929

77

0,509081

78

0,391635

79

0,147391

80

0,325249

81

0,439209

82

0,602404

83

0,198328

84

0,302641

85

0,821354

86

0,48955

87

0,432181

88

0,847301

89

0,590833

90

0,52684

91

0,94762

92

0,630352

93

0,642619

94

0,432053

95

0,536144

96

0,120482

97

0,412894

98

0,862088

99

0,039348

100

0,495866

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menentukan faktor pengali

Faktor pengali ini ditentukan dengan menggunakan logika dari hasil random. Dimana logika tersebut adalah = if(letak sel random<= 0,5;-(0,5 – letak sel random);letak sel random – 0,5).

Berdasarkan fungsi logika tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

 

 

Nomor

factor pengali

1

0,077016369

2

-0,285242522

3

-0,142878175

4

0,059442064

5

-0,199689322

6

-0,297043304

7

0,478146124

8

0,173814758

9

-0,167722647

10

-0,222298377

11

0,188859712

12

0,474266096

13

0,103483065

14

-0,477165035

15

0,455870731

16

0,202587501

17

-0,107100451

18

0,003558865

19

-0,010074499

20

-0,279261891

21

0,131533334

22

-0,177635172

23

-0,424419101

24

0,324893013

25

-0,22992795

26

-0,31743615

27

-0,039898663

28

-0,150360237

29

0,480215755

30

-0,21951715

31

0,090200979

32

0,367725868

33

0,464448245

34

-0,285836778

35

0,453759198

36

-0,269476135

37

0,382114401

38

-0,419565405

39

-0,457833854

40

-0,143775194

41

-0,037456705

42

-0,33280321

43

0,180429456

44

0,330523813

45

-0,344903501

46

0,225010423

47

-0,235904346

48

0,33683114

49

0,134833973

50

0,2320797

51

-0,489264022

52

0,196425195

53

-0,136077215

54

0,335414216

55

0,480722854

56

0,427409251

57

0,256776349

58

-0,118245124

59

-0,017670629

60

-0,312459047

61

0,461199597

62

0,32222192

63

-0,059086243

64

0,113231311

65

-0,063164602

66

0,48848369

67

-0,238111285

68

-0,016848796

69

0,49996725

70

0,046116813

71

-0,334331726

72

-0,037851239

73

-0,12847198

74

-0,096453476

75

-0,488386672

76

0,399289957

77

0,009081136

78

-0,108365163

79

-0,352609006

80

-0,174751362

81

-0,060791373

82

0,102403753

83

-0,30167171

84

-0,197358877

85

0,321353968

86

-0,010450046

87

-0,067818793

88

0,347300564

89

0,090833202

90

0,02683981

91

0,447619504

92

0,130352423

93

0,142619165

94

-0,067946888

95

0,036144228

96

-0,379518155

97

-0,087105979

98

0,36208791

99

-0,460652131

100

-0,004134241

 

  1. Menentukan standard deviasi real

Standard deviasi real dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Standard deviasi real = standard deviasi x faktor pengali

Berdasarkan rumus tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

Nomor

factor pengali

St. Deviasi real

1

0,077016369

0,044439706

2

-0,285242522

-0,164589604

3

-0,142878175

-0,082443046

4

0,059442064

0,034299044

5

-0,199689322

-0,115224007

6

-0,297043304

-0,171398849

7

0,478146124

0,27589814

8

0,173814758

0,100293961

9

-0,167722647

-0,096778713

10

-0,222298377

-0,128269802

11

0,188859712

0,108975145

12

0,474266096

0,273659301

13

0,103483065

0,059711422

14

-0,477165035

-0,275332036

15

0,455870731

0,263044874

16

0,202587501

0,116896304

17

-0,107100451

-0,061798713

18

0,003558865

0,002053524

19

-0,010074499

-0,005813151

20

-0,279261891

-0,161138683

21

0,131533334

0,075896887

22

-0,177635172

-0,102498402

23

-0,424419101

-0,244896769

24

0,324893013

0,187468587

25

-0,22992795

-0,132672191

26

-0,31743615

-0,183165855

27

-0,039898663

-0,023022182

28

-0,150360237

-0,086760318

29

0,480215755

0,277092351

30

-0,21951715

-0,126664989

31

0,090200979

0,052047441

32

0,367725868

0,212183845

33

0,464448245

0,26799424

34

-0,285836778

-0,1649325

35

0,453759198

0,261826485

36

-0,269476135

-0,155492141

37

0,382114401

0,220486264

38

-0,419565405

-0,242096106

39

-0,457833854

-0,264177628

40

-0,143775194

-0,08296064

41

-0,037456705

-0,021613132

42

-0,33280321

-0,1920329

43

0,180429456

0,10411075

44

0,330523813

0,19071765

45

-0,344903501

-0,199014966

46

0,225010423

0,129834697

47

-0,235904346

-0,136120669

48

0,33683114

0,194357081

49

0,134833973

0,07780141

50

0,2320797

0,133913786

51

-0,489264022

-0,282313349

52

0,196425195

0,113340553

53

-0,136077215

-0,078518781

54

0,335414216

0,193539493

55

0,480722854

0,277384956

56

0,427409251

0,246622134

57

0,256776349

0,148164156

58

-0,118245124

-0,068229372

59

-0,017670629

-0,010196242

60

-0,312459047

-0,180293985

61

0,461199597

0,266119717

62

0,32222192

0,185927322

63

-0,059086243

-0,034093729

64

0,113231311

0,06533632

65

-0,063164602

-0,036447009

66

0,48848369

0,281863085

67

-0,238111285

-0,137394109

68

-0,016848796

-0,009722031

69

0,49996725

0,288489287

70

0,046116813

0,026610156

71

-0,334331726

-0,192914879

72

-0,037851239

-0,021840785

73

-0,12847198

-0,074130435

74

-0,096453476

-0,055655234

75

-0,488386672

-0,281807104

76

0,399289957

0,230396841

77

0,009081136

0,005239964

78

-0,108365163

-0,062528473

79

-0,352609006

-0,203461168

80

-0,174751362

-0,100834396

81

-0,060791373

-0,035077617

82

0,102403753

0,059088642

83

-0,30167171

-0,174069515

84

-0,197358877

-0,113879302

85

0,321353968

0,1854265

86

-0,010450046

-0,006029848

87

-0,067818793

-0,039132554

88

0,347300564

0,200398111

89

0,090833202

0,052412244

90

0,02683981

0,01548701

91

0,447619504

0,258283781

92

0,130352423

0,075215482

93

0,142619165

0,082293593

94

-0,067946888

-0,039206467

95

0,036144228

0,020855811

96

-0,379518155

-0,218988188

97

-0,087105979

-0,050261576

98

0,36208791

0,208930651

99

-0,460652131

-0,26580382

100

-0,004134241

-0,002385525

 

Jumlah dari standard deviasi real adalah 0,756305

  • Menentukan jumlah objek

Dalam penentuan jumlah objek ini dilakukan berdasarkan kebutuhan formalin yang ingin diprediksi jumlahnya pada tahun 2016. Pada tahun tersebut ditentukan nilai x.

Sehingga nilai X = 2016 – 2001

                        X = 15 (disubstitusikan ke persamaan grafik linear)

Y = 1498,1x + 575,41

Dengan :

X = Periode

Y = Kebutuhan formalin

Y = 1498,1x + 575,41

    = ( 1498 x 16 ) + 575,41

    = 24545,01 ton/tahun

Hasil ini masih belum real. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang real dijumlahkan dengan standard deviasi real. Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

Y = 23046,91 ton/tahun + 0,756305

    = 24545,76631 ton/tahun

Jadi kebutuhan formalin di tahun 2016 yang akan datang adalah sebesar 24545,76631 ton/tahun

 

 

 


 

BAB IV

PENUTUP

 

 

 

  1. A.                KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, kesimpulan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Reaksi oksidasi adalah reaksi yang mengalami dua peristiwa yaitu reduksi dan oksidasi (ada perubahan Biloks satu atau lebih unsur yang bereaksi).
  2. Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formaldehid), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formaldehid, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane.
  3. Pembuatan formaldehid

–          Persiapan bahan baku pembuatan formaldehid

–          Proses Reaksi

–          Proses Absorbsi

–          Proses pendinginan

–          Proses pengenceran

  1. Kebutuhan formaldehid pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 23047,23009 ton/tahun

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.flexmedia.co.id/2-zat-yang-berbahaya-yang-dapat-menyebabkan-kematian/

http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/oksidasi_dan_reduksi/pengertian_oksidasi_dan_reduksi_redoks/

http://masriantoch4n1490.wordpress.com/2012/02/02/prarancangan-pabrik-formalin-dari-metanol-dan-udara-proses-silver-catalyst/

http://hutanhujan.wordpress.com/2012/01/05/proses-pembuatan-formalin/

 

One thought on “Makalah Formaldehid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s