Bermasyarakat dengan Kenormalan

“Yang penting tidak mengganggu, Mbak”, kata Bu Margo, salah satu ketua RT di daerah Notoyudan.

 

Masyarakat umum acapkali memandang waria secara negatif. Hal itu tidak terlepas dari wacana kultural dan dogma agama yang membingkai konstruksi sosial masyarakat terhadap waria. Meski demikian, waria sesungguhnya adalah bagian integral dari kehidupan sosial dengan berbagai dinamikanya. Bagaimana waria menjalani kehidupannya yang “berbeda” serta bagaimana masyarakat memandang dan menerima keberadaan waria dalam struktrur sosialnya adalah dua hal berkesinambungan. Itulah yang menarik dari kehidupan waria di Pondok Pesantren Khusus Waria Al-Fatah Senin Kamis Yogyakarta.

Sesuai namanya, pondok pesantren yang terletak  di Jalan Notoyudan GT II/129A RT 85 RW 24 Yogyakarta itu adalah wadah ekspresi religiusitas seorang waria. Adalah Mariyani, seorang waria berusia 53 tahun yang merintis berdirinya pesantren itu sejak 8 Juli 2008. Bangunannya sederhana, tidak seperti pondok pesantren pada umumnya. Namun di tempat itulah komunitas waria di Yogyakarta melakukan berbagai ritual ibadah sebagai seorang muslim. Meski hanya setiap malam senin dan malam kamis, namun hal tersebut adalah wujud penghambaan pada Yang Maha Kuasa.

Image

 

Maryani, pendiri Pesantren Waria (sumber : koleksi pribadi)

Sebagai kelompok minoritas yang cenderung termarginalkan, kehadiran waria sesungguhnya adalah keniscayaan kehidupan sosial masyarakat plural. Untuk itulah, kehidupan harmonis antara waria dan masyarakat menjadi sebuah kenyataan yang perlu ditumbuhkembangkan. Menurut Rully Mallay, penerimaan masyarakat terhadap waria memang bervariatif. Bagi waria kelahiran 24 Maret 1960 itu, hal itu tergantung dari seberapa dalam perspektif gender yang dimiliki seseorang. “Masyarakat harus punya persepktif gender sexuality. Dalam masyarakat yang heterogen perspektif itu dapat terbangun melalui lembaga pendidikan,” ujarnya.

Lanjut Rully, sapaan akrabnya, masyarakat yang memiliki pespektif gender sexuality itulah yang bisa menerima dan memberikan toleransi bagi eksistensi waria. Dan pada akhirnya dapat terbangun hubungan harmonis antara waria dan masyarakat. Menurut waria kelahiran Surabaya itu, selama 52 tahun terlahir sebagai seorang waria, masyarakat mayoritas bisa menerima kehadirannya. “Itu semua tergantung dari sejauh mana waria menggunakan banyak waktunya untuk bersosialisasi dengan masyarakat,” pungkasnya.

Sebagai bukti kehidupan harmonisnya dengan masyarakat mayoritas, anak keempat dari tujuh bersaudara itu bahkan pernah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Meskipun selama sepuluh tahun menjalani karir sebagai guru berstatus PNS di sebuah sekolah dasar di Sumbawa Nusa Tenggara Barat dengan label waria. Menurutnya, komunitas masyarakat bisa menerimanya dengan bijak. Namun kemudian ia memutuskan untuk berhenti menjadi PNS sejak tahun 1986 oleh karena merasa sistem politik pemerintahan dan sistem pendidikan tidak memiliki aturan baku yang mengakomodasi seseorang yang terlahir sebagai waria.

Selain itu, ia pun pernah menjalani status sebagai mahasiswa Akademi Seni Tari. Di situlah waria yang sejak kecil lihai bermain biola itu menyalurkan bakat seninya. Hari-harinya juga dihabiskan menjadi seorang pengamen dari jalan ke jalan, pasar ke pasar, tempat ke tempat. Namun demikian, perlakuan diskriminatif hingga bentuk kekerasan sangat jarang ia terima. Menurutnya, itu menandakan bahwa masyarakat telah dewasa dalam memosisikan perbedaan gender. “Visi saya adalah memperjuangkan identitas gender. Karena itu, selama kita baik kepada masyarakat, maka masyarakat pun akan menerima kita secara baik,” jelasnya.

Senada dengan Rully, Ipah adalah waria lain yang merasa kehadirannya bisa diterima di masyarakat. Waria asal Purwodadi Jawa Tengah itu menilai bahwa masyarakat di sekitarnya bisa menghargai keberadaan waria. Baginya, terlahir sebagai seorang waria adalah takdir dan bukan sebuah pilihan hidup. Karena itu, dirinya tidak pernah menyesal untuk menerima kenyataan hidup sebagai seorang minoritas. Untuk itu pulalah, masyarakat harus memahami waria sebagai bentuk keberagaman.

Menanggapi mengenai status sosial waria, menurut anak ketiga dari lima bersaudara itu, waria selama ini umumnya terlibat pada sektor informal, seperti menjadi penata rias pengantin dan pekerja salon. Sebab, tambahnya, ketika terlibat dalam profesi lain ada semacam rasa malu bagi waria terhadap posisinya. Rasa malu itu bukanlah lahir dari penerimaan negatif masyarakat namun dari konstruksi waria atas dirinya sendiri. Karena itu, secara umum waria yang hanya sempat mengeyam pendidikan hingga kelas empat sekolah dasar itu menilai kehidupannya dengan masyarakat tetap harmonis tanpa marginalisasi.

Akan tetapi, persoalan tidak berhenti sampai di sini. Sebagai manusia yang hidup dengan orang lain, tentunya ia mempunyai keharusan untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Ya, walaupun statusnya sebagai kelompok marginal, ia tetap harus guyub dengan tetangga kanan dan kirinya. Uraian panjang yang disampaikan oleh Rully dan Ipah hanya berasal dari satu komponen saja. Dan seringkali itu hanya perspektif yang dibangun oleh waria. Ini diperkuat dengan pernyataan salah seorang pembantu rumah tangga yang tidak mau disebutkan namanya, “ *fatma,risa,naja,iqbal,irza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s